Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037 || Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037

Jegog Bisa Jadi Andalan Tarik Wisatawan Kunjungi Pulau Dewata

reportaserakyat.com – Jembrana Bali, Pemerintah Kabupaten Jembrana untuk pertama kali menggelar festival Jegog di Anjungan Cerdas Jalan Nasional (ACJN) Rambut Siwi, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo. Festival berlangsung selama tiga hari, 3-5 Desember 2019. Festival dibuka Kadis Kebudayaan Provinsi Bali I Wayan Adnyana.

Bupati Jembrana I Putu Artha, Wakil Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan, Forkopimda Jembrana serta masyarakat pelaku seni di Jembrana turut menyaksikan acara pembukaan itu.

Bisa dikatakan Pemkab Jembrana mengemas event Jegog ini agak berbeda. Selain pemilihan lokasi di Anjungan Cerdas yang pengelolaan sementara baru saja diserahterimakan pemerintah pusat, juga kemasan evennya dengan konsep festival selama tiga hari. Tidak hanya menampilkan atraksi serta kemampuan seniman Jembrana memainkan alat musik Jegog, namun juga diisi dengan pameran jegog, workshop jegog serta pamungkasnya akan ditutup dengan mebarung massal serta ngibing masal.

Tema festival tahun ini mengusung “The Magic Sound of West Bali”. Dalam festival kali ini, panitia berusaha mengakomodasi keinginan berbagai pihak akan kemasan festival Jegog yang lebih baik sesuai hasil focus group discussion (FGD) yang digelar sebelumnya.

Bupati Jembrana I Putu Artha mengatakan, festival Jegog tahun ini melibatkan kurang lebih 84 sekaa jegog dengan 2500 orang seniman.

“Melalui Festival Jegog merupakan salah satu upaya kita melestarikan salah satu identitas budaya Jembrana. Kita juga ingin mengembangkan kreativitas seniman melalui berbagai garapan komposisi , mendorong tumbuhnya ekonomi budaya sekaligus sebagai tontonan dan tuntunan bagi generasi muda untuk mencintai kesenian khas daerahnya,“papar Artha.

Bupati Artha juga berharap festival Jegog dapat menjadi event tahunan yang menggelorakan kehidupan budaya serta kepariwisataan di Jembrana. “Kita sampaikan terimakasih kepada provinsi yang mendukung festival tahun ini. Kita ingin memberikan hiburan kepada masyarakat sekaligus menegaskan bahwa Jembrana adalah pusatnya Jegog,” kata Artha.

Sebagai daya tarik wisata, Artha juga ingin Jegog mampu menarik wisatawan datang ke Jembrana. “Kita rencanakan Jegog akan rutin digelar di anjungan cerdas rambut siwi. Seminggu dua kali. Jadi wisatawan yang selama ini hanya melintas saja lewat Gilimanuk, bisa singgah dan datang ke Jembrana. Sehingga mereka tahu disamping Mekepung,Jembrana juga punya kesenian Jegog,“terang Artha.

Sementara itu di tempat yang sama, festival Jegog mendapat apresiasi positif dari Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Wayan Adnyana. Jegog disebut Wayan sebagai warisan budaya tak benda, kaya akan nilai filosofis, sosiologis serta makna sejarah . Nilai itu sangat penting bagi Bali bahkan juga nasional. Sehingga dengan terselenggaranya Festival Jegog Jembrana tahun ini bisa mensosialisasikan keadiluhungan nilai-nilai Jegog itu.

“Jadi event ini sangat bagus, semoga bisa terselenggara secara kontinyu. Yang terpenting bagaimana kita bersama sama menjaga aset bangsa ini, diantaranya melalui penyelenggaraan event. Baik itu Pesta Kesenian Bali di provinsi maupun event skala nasional, di tingkat yang lebih tinggi,“ ujarnya

Festival hari pertama berlangsung meriah, menampilkan pementasan Jegog tempo dulu dengan menampilkan tari ticak dayang yang dibawakan oleh Trah Kiyang Gliduh, sebagai pencipta Jegog di kabupaten Jembrana. Penampilan kedua diisi pementasan Jegog kreasi oleh Jegog Suar Agung membawakan tarian makepung. Penampilan terakhir diisi dengan pementasan jegog kolaborasi yang dibawakan oleh Sanggar Kumara Widya Suara SMPN 4 Mendoyo dengan membawakan karya musik dan tarian Jejangeran. Tarian ini menggambarkan romantisme kehidupan anak-anak berkolaborasi dengan musik diatonis yang ditata dengan lagu pop bali sebagai interpretasi anak muda dengan olah vokal yang bernuansa kekinian.

Festival hari kedua dilaksanakan FGD Jegog/Workshop Jegog membedah hal-hal yang masih belum terjawab berkaitan dengan kesenian Jegog.

Sejauh ini, Jegog masih minim referensi sehingga diperlukan banyak pembahasan dan ruang diskusi untuk menyempurnakan literasi. Workshop di hari kedua festival menghadirkan narasumber Prof. Dr Gede Arya Sugiartha, S.Skar, yang merupakan Rektor ISI Denpasar dan dari kalangan seniman. Sedangkan malam harinya masih di hari kedua pelaksanaan, digelar pementasan jegog inovatif, kontemporer dan eksperimental.

Puncaknya festival Jegog Jembrana 2019 akan ditutup pementasan Jegog Mebarung massal, dengan joged massal dan pengibing massal. (Pam)

space-Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: