Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037 || Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037

WALHI Hadirkan Saksi Ahli Lawan PT KRU di Pengadilan Negeri

BENGKULU, RR – Untuk Pertama Kalinya di Indonesia Kejahatan ECOCIDE Sebagai Pelanggaran HAM di bahas di materi persidangan WALHI melawan PT Kusuma Raya Utama

Sidang lanjutan Gugatan WALHI melawan PT Kusuma Raya Utama dan Turut Tergugatnya Gubernur Bengkulu terhadap dugaan perusakan Kawasan Hutan Konservasi Taman Buru Semidang Bukit Kabu dan Hutan Produksi Semidang Bukit Kabu serta pencemaran anak Sungai Kemumu dalam nomor perkara Nomor: 44/Pdt.g/LH/2018/PN.Bgl di Pengadilan Negeri Bengkulu. Pada sidang pembuktian ini WALHI menghadirkan saksi ahli mantan Wakil Ketua KOMNAS HAM RI yaitu Ridha Saleh.

Pada Persidangan ini WALHI menghadirkan saksi ahli yang merupakan Praktisi yang fokus terhadap isu-isu Hak Asasi Manusia baik di dalam negeri maupun dunia Internasional, Saksi Ahli yang di hadirkan oleh WALHI akan lebih terfokus terhadap materi ECOCIDE, kejahatan ECOCIDE terjadi ketika pertama terjadi kerusakan yang luas, kedua kerusakan atau kehilangan ekosistem dari suatu wilayah tertentu, ketiga apakah oleh seorang manusia atau oleh penyebab lain, sedemikian rupa. Keemapat kenikmatan damai oleh penduduk wilayah yang telah berkurang parah, dalam definisi ini manusia merupakan korban melalui kerugian mereka dari “Kenikmatan damai” dalam lingkungan alam.

“Ini merupakan langkah maju dari pengadilan yang berbicara tentang kasus lingkungan masuk ke materi pembahasan ECOCIDE dan saya belum pernah menemukan persidangan manapun berbicara masalah perusakan lingkungan itu masuk ke dalam materi ECOCIDE walaupun sebenarnya hal tersebut sudah di bahas didalam KOMNAS HAM khususnya berkaitan dengan kasus LAPINDO, tapi itu belum pernah masuk ke dalam pengadilan. Kenapa hal ini perlu di apresiasi yang pertama hakim begitu serius mempertanyakan dan mendiskusikan menjadikan materi ini sebagai bahan diskusi dalam ruang-ruang peradilan khususnya dalam gugatan WALHI melawan PT Kusuma Raya Utama,“ ujar Ridha Saleh, Senin (28/1).

Ditambahkan Ridha Saleh, materi kerusakan atau kejahatan lingkungan masuk kedalam satu terminologi tentang kejahatan ECOCIDE , dengan demikian peluang untuk mendorong ini menjadi satu regulasi sangat terbuka dan kita berharap proses persidangan kedepan ECOCIDE ini menjadi bagian dari apapun putusan pengadilan tentang perusakan dan pencemaran lingkungan serta ada fakta-fakta persidangan yang nantinya akan menjadi Yurisprudensi dalam peradilan lingkungan hidup.

Disisi lain sisi, Dede Frastien Manager Kampanye Industri Ekstraktif WALHI Bengkulu menyampaikan, bahwa dalam persidangan WALHI melawan PT Kusuma Raya Utama banyak sekali ditemukan fakta-fakta persidangan, apalagi ditambah majelis hakim khususnya Ketua Majelis Hakim dalam perkara ini sangat progresif dalam menggali fakta-fakta persidangan, disampaikannya materi ECOCIDE dalam materi persidangan ini merupakan langkah awal dan langkah maju terhadap suatu terobosan baru dalam penegakan hukum atas kejahatan lingkungan di Indonesia, serta gugatan WALHI ini nantinya akan menjadi suatu sumber hukum baru di Indonesia terhadap peradilan lingkungan di Indonesia.

“Kita akan giring semua proses persidangan ini hingga selesai demi memperjuangkan hak rakyat dan keselamatan alam lingkungan kita,” tutup Dede. [ACU]

Foto: Jalannya Persidangan antara Aktivis Lingkungan WALHI Bengkulu Versus PT KRU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: