Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Awan cp. 0813-2432-1238 || Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Awan cp. 0813-2432-1238

BUMN Merugi Sekitar Rp 120 Miliar Per Tahun Disebabkan Keputusan Jonan Naikkan Gas COPI

NASIONAL, RR – Keputusan Menteri ESDM, Ignasius Jonan menaikkan harga jual gas bumi yang dilego ConocoPhillips Indonesia (COPI) dari lapangan Grissik untuk wilayah Batam, Kepulau Riau telah memukul PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, pasalnya PT PGN  dipaksa mengabil dengan harga yang lebih tinggi namun perusahan BUMN ini tidak diperbolehkan menaikan harga jual ke konsumen.

Melalui surat bernomor 5882/12/MEM.M/2017 tentang penetapan harga jual gas bumi dari ConocoPhillips Grissik ke PGN, Jonan menetapkan harga jual COPI ke PGN naik USD 0,9 per MMBTU. Dari harga awal USD 2,6 per MMBTU menjadi USD 3,5 per MMBTU. Sedangkan harga jual PGN ke konsumen seperti PLN dan Industri tidak diperkenankan naik, sehingga harganya tetap USD 5,6 per MMBTU.

Munculnya hasrat menaikan harga ini sendiri terkesan lahir dari rasa iri yang dimiliki COPI kepada PGN atas margin yang didapat PGN. Belakang COPI berupaya negosiasi dan mendesak agar terjadi perubahan harga, namun negosiasi yang dijalankan melalui proses Business to Business (B to B) dengan PGN mengalami kebutuhan.

Tak hilang akal, disinyalir COPI melakukan lobi ke pemerintah hingga dengan kewenangannya pemerintah memaksa PGN membeli gas COPI dengan harga yang lebih mahal. Pemerintah merelakan BUMN mengeluarkan kocek lebih untuk dibayar ke COPI.

“Pertama, COPI mengatakan PGN menjual kepada konsumen harganya USD 5,6. Sementara harga hulunya (COPI) USD 2,6. Jadi ada selisih harga, dimana kata COPI ada selisih harga yang lebih besar yang didapatkan PGN. PGN bilang harga yang dijual COPI itu sudah memenuhi unsur keekonomian karena tidak ada pengembangan lapangan baru. Kita melihat ada perlu adjustment agar dua-duanya merasa berkeadilan,” kata Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar, ditulis Rabu (16/8).

“Kita minta mereka berdiskusi, silakan berdiskusi apa keuntungan masing-masing cukup atau tidak. Dalam diskusi B to B tidak tercapai kesepakatan. Akhirnya pak Menteri, karena kewenangan menentukan harga itu ada di Menteri. Jadi diputuskan naik harganya USD 0,9. Ini berlaku sampai 2019 sampai kontrak berakhir,” jelasnya.

Maka dengan keputusan ini diperkirakan penerimaan PGN berkurang Rp 120 miliar per tahun, dengan kontrak hingga 2019, artinya PGN harus membayar tambahan ke COPI lebih dari Rp 240 miliar.

Mengenai hal ini, Ego Syahrial sebagai Dirjen Migas mengaku belum bisa memberikan keterangan mengenai pertimbangan yang rela membiarkan BUMN merugi dan menguntungkan COPI.

“Karena saya baru menjabat sebagai Dirjen, jadi saya belum mengikuti sampai sedetil itu. Saat ini saya baru melakukan penataan. Jadi saya belum bisa jawab,” katanya Selasa (15/8).

Untuk diingat, terbitnya surat bernomor 5882/12/MEM.M/2017 yang menaikkan harga gas COPI dilakukan sepulang Menteri Jonan berkunjung ke Amerika Serikat dan bertemu dengan Ryan Lance (CEO ConocoPhillips) pada akhir bulan lalu. (002)

adminadmin

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: