Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Awan cp. 0813-2432-1238 || Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Awan cp. 0813-2432-1238

Ganjil, Tak Ada Pengembangan Baru di Grissik Pemerintah Malah Naikkan Harga Gas COPI

NASIONAL, RR – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai membeberkan sejumlah alasan dibalik keputusan penaikan harga jual gas bumi yang dilego ConocoPhillips Indonesia (COPI) dari lapangan Grissik untuk wilayah Batam, Kepulau Riau. Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar mengungkapkan, keputusan pemerintah untuk merestui penaikan harga gas COPI dimaksudkan untuk memunculkan asas fairness, meski di sisi lain keputusan tersebut akan menekan kinerja PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk sebagai pembeli dan penyalur gas.

Pembahasan penaikan harga pun sempat alot lantaran pihak pembeli sekaligus penyalur gas bumi yakni PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk merasa tidak terdapat pengembangan lapangan baru yang dilakukan COPI, sehingga tidak diperlukan adanya kenaikan.

“Awalnya PGN bilang, harga yang dijual COPI kemarin (USD 2,6 per mmbtu) itu sudah memenuhi unsur keekonomian karena COPI tidak ada pengembangan lapangan baru. Tapi dari sisi COPI, tidak. Akhirnya Kami minta mereka berdiskusi tapi dalam diskusi B to B tidak tercapai kesepakatan. Karena kewenangan penentuan harga itu ada di Menteri, jadi diputuskan margin yang diterima PGN,” jelas Arcandra di Jakarta, Selasa (8/8).

Seperti diketahui, restu Menteri Jonan untuk menaikan harga jual gas COPI ke PGN berangkat dari terbitnya surat bernomor 5882/12/MEM.M/2017 tentang penetapan harga jual gas bumi dari ConocoPhillips Grissik ke PGN. Yang menarik, keluarnya surat ini dilakukan tak lama setelah mantan orang nomor satu di Citibank Indonesia tersebut menggelar pertemuan dengan sejumlah petinggi ConocoPhillips (COPI) di Amerika Serikat, akhir bulan lalu.

Dalam surat yang diteken pada 31 Juli 2017 itu, manajemen COPI diperbolehkan untuk menaikan harga jual gas sebesar USD 0,9 per mmbtu, dari USD 2,6 per mmbtu menjadi USD 3,5 per mmbtu. Sementara di sisi lain, PGN selaku penyalur gas bumi tidak diperkenankan mengerek harga jual gas buminya ke kalangan industri atau rumah tangga.

Keputusan itu sendiri berlaku sejak surat ini diterbitkan hingga rampungnya masa kontrak jual beli gas antara COPI dan PGN pada 2019.

“Harga PGN yang menjual ke konsumen industri di Pulau Batam tidak naik, harganya sama. Yang berbeda adalah harga dari hulu ke PGN, dari yang sebelumnya USD2,6 per MMBTU ke USD3,5 per MMBTU. Kalau PGN ke konsumen itu USD 5,6 per mmbtu,” cetus Arcandra.

Mengomentari polemik ini, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Komisi VI Inas Nasrullah menilai jajaran Kementerian ESDM lebih mementingkan kepentingan COPI ketimbang BUMN. Inas beralasan dengan model kebijakan tersebut akan menggerus kinerja PGN yang diprediksi bakal menurunkan dividen perseroan ke negara. Terlebih saat ini, tidak ada rencana pengembangan lapangan atau plan of development (POD) yang akan dilakukan COPI.

“Coba Anda hitung, berapa itu kenaikan harga gas COPI? Sementara itu BUMN (Badan Usaha Milik Negara) tidak diberi kesempatan dan pilihan. Kalau mau fair, buka saja (POD),” cetus Inas. (002)

adminadmin

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: