Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Awan cp. 0813-2432-1238 || Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Awan cp. 0813-2432-1238

Gunakan Metode IMF, Sri Mulyani Tekan Rakyat Dan Utamakan Kreditor

NASIONAL, RR – Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (SMI) menerapkan metode International Monetary Fund (IMF) dalam kebijakan ekonomi nasional, hal ini dikatakan oleh Analis Ekonomi yang juga mantan tenaga ahli Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Abdulrachim Kreso.

Dia mencermati; sejak SMI menjabat sebagai Menteri Keuangan, kebijakannya hanya fokus kepada pemotongan anggaran dan penarikan pajak . Dalam waktu hanya satu minggu setelah dilantik sebagai Menteri Keuangan , SMI memotong belanja APBN 2016 sebesar Rp 133,8 Trilyun, padahal Menteri Keuangan sebelumnya, Bambang Brojonegoro juga telah memotong sebesar Rp 50,02 Trilyun. Sehingga total pemotongan untuk APBN 2016 menjadi Rp 183,82 Trilyun .

“Kebijakan ekonomi seperti itu dikenal sebagai kebijakan austerity atau penghematan yang merupakan prinsip dari IMF yang diterapkan di-mana-mana dalam kedok menolong namun yang sesungguhnya menjerumuskan seperti kasus yang terjadi pada Argentina di tahun 1991 – 2002, Indonesia 1997-1998 dan terakhir di Yunani 2009,” katanya ditulis Rabu (26/7)

Dia menegaskan bahwasanya campur tangan IMF kepada krisis ekonomi dengan model austerity malahan membuat negara-negara berkembang terjerumus kedalam krisis ekonomi yang lebih dalam. Sedangkan AS sendiri pada waktu mengalami krisis ekonomi ditahun 2008 justru menerapkan prinsip yang sebaliknya yaitu memberikan stimulus ekonomi atau countercyclical economic policy dan terbukti berhasil keluar dari krisis ekonomi dengan selamat dan dapat mengurangi tingkat pengangguran yang signifikan .

Dia mengulas kasus Argentina, selama 1975 -1990 negara itu mengalami kekacauan ekonomi sampai terjadi inflasi 300% setiap tahun, disaat itu terjadi campur tangan IMF. IMF mengawasi, mengarahkan dan memberikan pinjaman beserta syarat-syarat yang ketat kepada Argentina sejak 1991 sampai dengan 2002. Awalnya berjalan dengan baik , Argentina tumbuh dengan stabil 6% pertahun dengan inflasi yang rendah . Tetapi tahun 1994 mulai mengalami kesulitan fiskal dan 1998 mengalami depresi besar dan puncaknya Desember 2001 dan Januari 2002 terjadi kerusuhan sosial . Argentina gagal membayar hutang luar negerinya sebesar USD 132 Milyar. Dalam kondisi seperti itu IMF memaksa Argentina intuk membayar hutangnya sebesar USD 13 Milyar.

“Walaupun ada banyak sebab terjadinya kegagalan ekonomi Argentina tersebut , antara lain adalah karena mata uang Peso nya di peg (diikat dengan kurs tetap ) dengan US Dollar namun semua kebijakan ekonomi Argentina saat itu selalu berada dalam pengarahan, pengawasan, nasehat dan bantuan ( loan ) IMF . IMF sendiri akhirnya mengakui kesalahannya dalam menangani ekonomi Argentina itu. Padahal menjelang terjadinya krisis ekonomi di Argentina, IMF dan AS memuji-muji ekonomi Argentina .Ini sama persis dengan menjelang terjadinya krisis ekonomi di Indonesia 1997 – 1998 Bank Dunia masih me-muji-muji perekonomian Indonesia saat itu,” paparnya.

“Namun walaupun Argentina mengalami situasi yang demikian buruk, ada satu hal yang pasti dan kontradiktif yaitu hutang-hutang Argentina kepada IMF dan kreditor lainnya tetap harus dibayar dengan tepat waktu dan tepat jumlah tanpa restrukturisasi dan tanpa negosiasi . Creditors First,!” Imbuhnya.

Dalam krisis ekonomi di Indonesia 1997 – 1998, IMF juga campur tangan atas undangan menteri ekonomi Presiden Suharto. Managing Director IMF waktu itu Michael Camdessus sebelum bertemu dengan Presiden Suharto mengundang beberapa ekonom Indonesia untuk mendiskusikan kondisi terakhir ekonomi kita . Dalam diskusi itu DR. Rizal Ramli menjadi satu-satunya ekonom yang menolak campur tangan IMF dalam menyelamatkan krisis ekonomi.

Lalu menurut Abdulrachim, kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia BLBI yang merugikan negara ratusan triliun tidam terlepas dari tekanan IMF. IMF menekan agar 16 bank kecil dibubarkan (dilikuidasi). Walaupun mereka itu hanya bank kecil. Tapi yang terjadi akibat likuidasi itu menyebabkan masyarakat tidak mempercayai sistim perbankan kita.

“Akibatnya terjadi penarikan uang besar-besaran (rush) yang menjalar ke bank besar seperti BCA dan Danamon. Ini mengakibatkan BI harus menyuntikan ratusan triliun kepada puluhan bank yang bermasalah,” ujarnya.

Kemudian waktu itu IMF juga menekan agar tingkat bunga dinaikkan dari 18% menjadi 80% . Hal ini mengakibatkan perusahaan-perusahaan yang tadinya sehat menjadi kolaps.

IMF juga mendesak agar dinaikkan harga BBM pada tanggal 1 Mei 1998 sebesar 74%. Akibatnya pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Suharto jatuh .

“Menurut perhitungan Rizal Ramli pada waktu dia menolak IMF waktu itu, kalau kita tidak mengundang campur tangan IMF maka ekonomi kita hanya akan turun dari 6% ke 2% atau 0% . Tetapi karena kita mengundang campur tangan IMF maka ekonomi kita menjadi turun sebesar minus 13% , harus menyuntikkan BLBI ratusan trilyun , mengakibatkan harga-harga aset menjadi terjun kebawah dan membuat recovery ekonomi kita menjadi lama,” jelasnya.

“Parahnya, dalam ekonomi yang sulit saat itu, Indonesia tetap harus membayar hutang-hutang nya kepada IMF dan para kreditor lainnya secara tepat waktu , tepat jumlah , tidak ada restrukturisasi hutang dan tidak ada negosiasi hutang. Creditors First!,” ujar dia.

Pasien IMF saat ini lanjutnya adalah Yunani , yang menjadi penyebab dari timbulnya krisis ekonomi di Uni Eropa sejak 2009 sampai sekarang. Walaupun untuk mengatasi krisis Yunani itu IMF bergabung dengan negara-negara Uni Eropa dan Bank Central Eropa dan disebut denganTroika , namun IMF tetap mewarnai kebijakan-kebijakan Yunani.

“Pada awal Troika, IMF menangani krisis Yunani hutangnya mencapai 120% dari GDP nya . Namun setelah kurang lebih 5 tahun lamanya ditangani IMF hutangnya membengkak jadi 170%.

GDP Yunani mengecil menjadi hanya sekitar 30%, angka pengangguran menjadi 24% , uang pensiunan dipotong , pelayanan publik dirusak oleh program austerity ( penghematan ) yang dipaksakan oleh IMF/Troika .

“Lagi-lagi cara IMF dalam memainkan krisis suatu negara dengan cara menyelamatkan kreditornya dulu , memaksakan penghematan dan bahkan mengabaikan kondisi ekonomi negara tersebut. Tidak ada restrukturisasi hutang , tidak ada negosiasi hutang. Creditors First!” Sindirnya.

Oleh karena itu, dengan latar belakang Sri Mulyani yang pada tahun 2002 sampai dengan 2004 bekerja di IMF sebagai Direktur Eksekutif untuk Asia Tenggara, kemudian menjabat sebagai Menteri Keuangan, maka ia melihat jelas arah kebijakan Sri Mulyani seirama dengan IMF.

“Fokusnya kepada pemotongan anggaran , mengejar pajak sampai-sampai mau mengintip rekening 200 juta rupiah yang kemudian dinaikkan jadi satu miliar rupiah karena banyak diprotes orang. Lalu memajaki petani tebu dan yang terakhir mau menurunkan batas PTKP,” ujarnya.

Yang dia heran, Sri Mulyani selama satu tahun ini tidak pernah mengeluarkan kebijakan apapun yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Langkah Sri Mulyani yang konsisten kepada kebijakan austerity dan mengejar pajak ini jelas menyebabkan lesunya ekonomi , mengarah kepada PHK dan resesi ekonomi dan bukan tidak mungkin terjadi depresi ekonomi. Karena itu sangat berbahaya bagi ekonomi Indonesia bila Sri Mulyani dipertahankan sebagai Menteri Keuangan,” pungkas dia. (002)

adminadmin

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: