Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037 || Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037

MENARA AL-AKBAR (Bagian III Novel Jejak-Jejak Surga)

ReportaseRakyat.com – Ruci memacu gas motor perlahan. Tujuan utama mereka adalah Gramedia Royal Plaza yang berjarak sekitar lima belas menit dari rumah. Toko buku ini paling laris di Surabaya dengan banyak kelebihan dari segi pelayanan dan kenyamanan yang membuat pengunjung merasa sangat terkesan. Sayangnya, sesampai di sana mereka tidak menemukan buku yang diinginkan. Sampai-sampai Shena pun memberanikan diri untuk menanyakan ke petugas buku di gudang, tapi nihil.

Mereka beranjak ke MURIZ Bookstore. Toko ini mempunyai banyak koleksi buku antik, bekas, dan lain-lain. Dengan sepeda motor yang berhasil dipinjam dari Haikal, akhirnya mereka meluncur ke tujuan berikutnya.

Di perjalanan, mereka banyak bercerita tentang keindahan kota terbesar kedua setelah Jakarta tersebut. Diselingi canda tawa yang membuat suasana siang semakin indah. Setelah setahun tak bertemu, tidak banyak yang berubah selain penampilan yang membentuk mereka semakin matang sebagai remaja yang beranjak dewasa.

Kenangan setahun lalu masih sangat berkesan di hati Shena. Mengunjungi Kota Pahlawan, membuatnya tak mau melewatkan tempat bersejarah sedikit pun. Dia selalu mengunjungi Masjid Al-Akbar yang dibangun sekitar tahun 2000. Masuk dalam menaranya hanya dengan membayar biaya sebesar tiga ribu rupiah.

Suasana keramaian jalur beberapa kota yang tak kalah seru, dapat dinikmati dari Gerbong Kertosusila. Gerbong ini adalah jalur perpaduan kota Lamongan, Gresik, Bangkalan, Sidoarjo, Mojokerto, Surabaya, dan Jombang yang juga selalu menjadi objek wisata yang indah bagi Shena dan Ruci.

Setelah berhasil membeli pesanan sang papa, Shena pun mengajak Ruci keluar dari Toko Buku MURIZ. Tempatnya lumayan jauh dari rumah Ruci, sehingga mereka harus segera pulang sebelum waktu azan salat ashar dikumandangkan.

Mereka menghabiskan sisa perjalanan ke rumah dengan terus bercerita dan saling memberi saran tentang pendidikan tertinggi yang akan mereka mulai pada tahun itu. Jarak bukanlah dinding pemisah, karena mereka akan selalu berkomunikasi lewat surat ataupun ponsel. Bahkan setiap liburan, mereka bisa bertemu jika Shena berlibur ke tempat Tante Maya.

Langit sore pun memerah. Shena dan Ruci pulang disambut wajah semringah sang Bunda. “Bukunya dapat nggak?” tanya bunda penasaran.

“Dapet dong, Bun. Belanja dengan maniak buku, sih. Mungkin kalau belum dapet, belum mau pulang nih anak.” Ruci menyikut Shena yang mengembangkan senyum, menampakkan lesung pipi.

“Ya, udah. Masuk, gih. Shena nginap di sini, kan?” tekan Bunda lebih seperti perintah, daripada bertanya.

Shena menggumam, terlihat mengingat. “Maunya sih gitu, Bun. Tapi besok Tante Maya mau ngajak silaturahmi ke tempat saudara,” sesalnya.

“Oh, nggak papa deh. Tapi pulangnya nanti malam aja ya, biar kita bisa ngantar bareng Ayah. Kamu kan belum ketemu Ayah juga,” pinta Bunda.

Ayah Ruci bekerja di pemerintahan kota Surabaya. Sejak kepindahannya dari Bengkulu, Shena tak menyangka karier ayah terus naik hingga menjadi staf tetap di kantor walikota. Ayah adalah sosok yang ia segani. Tegas tapi tidak menghilangkan keramahannya.

Shena mengangguk setuju dengan permintaan Bunda. Dia pun sebenarnya ingin terus berada di sana. Tinggal bersama keluarga Ruci. Akan tetapi, dia tidak ingin merepotkan keluarga yang sudah banyak berkorban untuknya. Shena juga tak tega harus meninggalkan papanya sendiri.

“Wah … adik-adikku yang cantik sudah pada pulang, nih. Beli apa aja?” Haikal pun menghampiri Shena dan Ruci yang duduk kelelahan di ruang keluarga.

“Biasa, Kak. Beli pesanan Papa,” jawab Shena sedatar mungkin. Hatinya terasa lebih santai dan tenang. Ia yakin, rahasia itu tak akan Haikal ceritakan pada yang lain.

“ Coba kakak lihat!” pinta Haikal.

Shena pun memberikan kantong plastik yang tergeletak di sampingnya.

“Wow, antik. Memang papamu penggila sastra banget ya, Shen.” Binar matanya menampakan kekaguman.

“Kak Haikal itu juga jago bikin puisi loh, Shen,” celetuk Ruci kemudian.

“Memang Kakak suka puisi, walau masih belum apa-apanya dibandingkan dengan karya di buku ini,” tunjuknya pada buku yang ada di genggaman.

“Lumayan romantis kan, Shena. Masuk daftar tunggu nggak, tuh?” ledek Ruci. Shena tak menanggapi candaan kakak beradik tersebut. Mereka memang selalu kompak membuat Shena jadi malu. Ruci memang tahu, suami idaman Shena adalah sosok yang romantis. Hingga tak jarang dia selalu menggoda Shena yang pendiam. Sedangkan sosok Ruci selalu mengisi harinya dengan keceriaan, candaan, bahkan ledekan yang membuat wajah Shena bersemu merah.

Makan malam pun semakin lengkap dengan kehadiran Ayah Ruci. Keluarga ini memang sungguh menarik hati bagi Shena. Walaupun sibuk, Ayah Ruci tak pernah absen untuk bergabung makan malam dengan keluarga.

“Shena, nanti diantar sama Haikal dan Ruci saja ya. Ayah sama Bunda ada undangan ke rumah pak Wali Kota yang baru dilantik.”

“Ya, Shena. Maaf ya, Sayang. Bunda jadi nggak bisa ngantar.” Nada suara Bunda terdengar lirih penuh penyesalan.

“Ah, nggak apa-apa kok, Bun, Yah. Kan ada Ruci,” tutur Shena.

“Kalau begitu kalian bawa mobil ayah aja. Ayah dan Bunda sudah lama tak berboncengan dengan menggunakan motor,” sahut Ayah Ruci ringan.

“Cie… cie… yang pada mau berduaan, romantis banget.” Ruci menggoda orangtuanya.

“Udah, Ci. Bunda sama Ayah kan juga mau bernostalgia berdua. Jadi, jangan diganggu,” sahut Haikal sambil nyengir memperlihatkan susunan gigi depannya.

“Jadi, kita malam mingguan bertiga nih ceritanya?” ujar Ruci. Semua tersenyum mendengar komentar Ruci yang manja. Bunda dan Ayah pun tampak bahagia dengan komentar anakanaknya.

Sebelum pulang, Shena diajak Ruci kembali menyambangi menara masjid Al-Akbar. Mau tak mau Haikal harus bersabar dengan tingkah mereka berdua. Ada rasa rindu di kedua sorot mata Shena dengan suasana masjid. Kesan unik dari bangunan yang membuat Shena terperangah ketika pertama kali melihatnya. Selalu memberikan kesan mendalam dengan desain kubah berbentuk struktur daun, dan bangunan kombinasi antara warna biru dan hijau gelap yang memberikan kesan sejuk dan damai.

Shena sangat menyukai eksterior masjid. Ornamen yang dihiasi dengan berbagai corak ukiran dan kaligrafi yang sangat indah. Pintu masuk masjid terdiri dari 45 pintu utama, dan semuanya dibuat dari kayu jati berukir. Interior masjid pun dihiasi oleh ukiran hias dan kaligrafi yang sangat dominan menghiasi dinding masjid. Lalu, terdapat rak Al Quran tersebar di dinding masjid dan di bagian atas interior terdapat ornamen kaligrafi dengan panjang 180 meter dan lebar satu meter.

Keindahan masjid dimulai dari pencahayaan dalam ruangan, halaman taman, bangunan, sampai lampu yang menerangi kubah dan menara tak luput dari pandangan decak kagum seorang Shena.

Selain itu, masjid menjadi lebih megah dengan keindahan kaca berukir. Ukiran pada kaca memberikan keindahan tersendiri pada desain masjid. Di samping itu juga berguna untuk menghemat energi dan meredam kebisingan.

Ternyata selain sebagai tempat ibadah, masjid itu juga menyediakan tempat untuk syi’ar agama Islam. Seperti acara pernikahan dan acara formal lainnya. Masjid itu dapat menampung 2000 undangan. Dibuktikan dengan kegiatan seperti upacara pernikahan syariah Islam yang sering dilakukan di ruangan Zamzam. Ada juga ruangan Zaitun dan Yasmin yang disediakan untuk para tamu haji serta dalam kegiatan pembacaan dan penyuluhan agama. Secara keseluruhan, selain dari hal-hal komersial, Rumah Allah itu adalah tempat untuk beribadah dan menjadi rumah bagi mereka yang letih dan lelah, dan setiap orang bisa masuk ke dalamnya.

Dua jam berlalu begitu saja. Waktu yang cukup panjang membuat Shena puas menikmati kerlipan lampu Kota Surabaya dari puncak menara. Walaupun selama perjalanan pulang, ia hanya bermenung diam di antara keriuhan kendaraan di badan jalan. Pada wajahnya tergurat kesedihan yang Shena sendiri tak mengerti penyebabnya.

“Kok hening, yah?” tanya Haikal melirik kedua gadis remaja yang terdiam di jok belakang.

Shena menggeser kepalanya dari samping jendela yang terbuka. Dia pun merapikan jilbab yang sedikit berantakan tersibak angin.

“Ngantuk, Kak. Nggak terasa banget kalau udah di atas menara. Jadi lupa waktu,” sahutnya dengan nada diberat-beratkan.

“Ah, baru jam sepuluh kok Shena.” Haikal melirik arlojinya. Shena hanya diam, tak berselera menjawab. Hatinya sedang tak keruan. Ia tak ingin kalau Haikal tahu, bagaimana perasaannya sekarang. “Cemburu! Benarkah?” batinnya tak mengerti.

Cahaya mentari menyelinap masuk ke kamar Shena. Membias indah hingga menelusup ke relung hati. Ia tengah duduk di atas sajadah dan menyudahi bacaan Al Quran-nya. Pindah berdiri di samping jendela. Wajahnya menyembul dari balik tirai kamar jendela. Ternyata kabut sudah terganti dengan pagi, dan embun telah digusur dengan sinar matahari yang cerah. Dihirupnya perlahan udara pagi yang sangat menyegarkan itu.

“Loh, Shena. Kok belum siap, Sayang?” Wajah sang tante menyelinap dari balik pintu kamar.

Hari ini dia berjanji dengan Tante Maya untuk mengunjungi rumah Paman Sam, sepupu almarhumah Mama Shena dan Tante Maya. Sang tante adalah adik bungsu mamanya dan satu-satunya keluarga dari Mama Shena yang tersisa. Tante Maya dulu tinggal bersama Mama Shena. Setelah menikah, Tante Maya ikut suaminya yang bekerja di Surabaya.

“Maaf, Tante. Habis tilawahnya tadi nanggung, jadi dikhatamkan aja sekalian,” jawabnya sopan.

“Oh, gitu. Ya udah mandi sana. Kita akan berangkat sebentar lagi. Kami tunggu di meja makan ya. Jangan lupa dhuhanya, Shen.” Tante Maya mengingatkan sebelum keluar dari kamar.

Ia segera membersihkan diri dan menuruti kata Tante Maya dengan baik. Usai sarapan, Shena, Tante Maya, dan Om David pun berangkat ke rumah Paman Sam yang tinggal di Gresik. Sesampainya di sana, keluarga besarnya menyambut mereka dengan riang.

Tak terasa selama tiga hari ini Shena terhanyut dalam kesibukan membantu keluarga Paman Sam memetik buah mangga di kebun. Hasil panen dijual di pasar atau didistribusikan ke tokotoko buah. Mangga di kebun Paman Sam adalah jenis mangga madu. Mangga madu ini jenis mangga yang gurih dimakan walaupun belum matang. Jenis ini sangat banyak diminati. Selain itu, juga ada penggemar mangga muda. Biasanya yang datang mencari mangga belum masak itu adalah ibu-ibu yang sedang hamil muda.

Ada sekitar 100 batang pohon mangga di lahan berkisar dua hektar yang sedang berbuah. Sungguh liburannya sangat mengasyikan. Sampai-sampai Shena lupa ingin segera pulang.

Pengalaman menjadi petualangan yang menarik bagi Shena. Tak rugi ia ikut ke Gresik untuk liburan. “Coba dari dulu ke sini, pasti mengasyikkan. Musim buah lagi,” sahutnya dalam hati.

Di musim mangga, hampir setiap hari kebun yang berada di belakang rumah pamannya itu terus ramai dikunjungi oleh pembeli. Shena, Chila, dan Chika akan ikut Paman Sam ke kebun ketika ada pembeli yang datang untuk memetik buahnya sendiri. Biasanya pengunjung diperbolehkan makan buah mangga sepuasnya di sana. Selain itu, juga harus dibeli tentunya.

Shena menyusuri rerumputan liar yang mulai kembali tumbuh. Dia pergi sendiri tanpa anak-anak Paman Sam, karena mereka sudah mulai kembali memasuki sekolah di semester yang baru. Chila dan Chika adalah putri kembar Paman Sam yang sudah duduk di kelas dua SMP. Tingkah polah mereka yang masih menggemaskan membuat Shena mampu melewati tiga hari penuh dengan kegembiraan.

Dia menyusuri kebun ditemani desau angin. Paman Sam dan istrinya sudah ke pasar semenjak pagi. Tante Maya dan Om David pun belum bisa menjemputnya pulang setelah mengantar ke rumah Paman. Seharusnya ia sudah kembali kemarin, tapi Om David ada tugas mendadak dari kantor, sehingga kepulangannya pun terus tertunda.

Shena menyusuri jalan setapak ke kebun. Tidak ada pengunjung. Ia hanya ingin menikmati panorama kesuburan dan keindahan kebun pamannya tersebut. Ia duduk di pondokan bambu yang sengaja dibuat untuk sekadar istirahat sejenak. “Mana ada di Bengkulu seperti ini,” pikirnya sambil melihat hamparan surga buah-buahan itu.

Ia bertafakur dan menyatukan jiwa dengan alam di sekitarnya. Namun, kali ini malah kata-kata di menara masjid AlAkbar itu kembali mengiang di telinga Shena.

Shena merasa, mungkin liburan kali ini adalah saat terakhirnya bisa melihat orang yang dia kagumi sejak kecil itu sebagai seorang lajang.

Karena kata Ruci, kakaknya akan menikah dengan seorang gadis lulusan UI sama seperti Haikal. Hati Shena merasa sangat sakit ketika mendengarnya. “Cemburu! Benarkah?” batinnya kembali bertanya-tanya.

Sudah dua bulan proses ta’aruf mereka dan kemungkinan akan menikah tahun ini juga. Shena belum terlalu mengerti bagaimana proses detail dari proses perkenalan secara Islam itu. Dia hanya tahu sedikit dari apa yang pernah diceritakan Ruci.

“Kalau untuk tempat pernikahan kakak nanti mau di sini ajalah, sepertinya asyik.” Haikal bercerita panjang. Malam itu mereka bertiga asyik melihat keriuhan badan jalan kota dari puncak menara.

“Boleh juga tuh, Kak. Emang kakak udah punya calon? Kakak kan belum tamat kuliah juga,” sergah Shena.

Haikal hanya tersenyum dalam diam. Seperti memikirkan suatu pertimbangan yang berat dalam hidupnya. “Lagi proses ta’aruf, Shena. Tahun ini kan Kak Haikal bakal wisuda, habis itu langsung nikah,” ledek Ruci pada Haikal yang membuat Shena terperangah. Akan tetapi, ekspresinya segera saja ditutupi.

“Oh ….” Sahutan pendek itu yang mampu keluar. Setelah itu ia tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan Ruci dan kakaknya.
Pikiran Shena terbang entah ke mana, semakin menjauh dari suara mereka. Ia tidak ingin sesuatu yang telah jelas ia dengar itu adalah kebenaran.

“Shena, kok melamun?” Haikal menegurnya.

“Nggak kok, Kak. Shena cuma membayangkan pasti pernikahan Kakak nanti sangat meriah,” sahutnya salah tingkah.

“Ya, dong. Kan adek-adek Kakak yang imut nanti yang jadi konseptor acaranya,” canda Haikal yang membuat hati Shena semakin layu.

“Sekarang antar Shena pulang yuk, Kak, sepertinya dia kelelahan,” ajak Ruci pada Haikal.

Sshhh….
Mentari memancarkan cahayanya dengan tajam. Bayangan pondokan dan pohon-pohon pun semakin pendek. Desauan ilalang beriringan seperti dihalau angin kencang. Shena mendongakan kepalanya ke belakang, tidak ada angin kencang.
Shhhh…. Shhhh….

Kali ini suara itu semakin mendekat dan mendekat. Dia kembali mencari sumber suara di balik semak-semak, tidak ada siapa siapa. Shena pun penasaran dan keluar dari pondokan. Hatihati ia melangkah, ia melihat semak yang bergoyang-goyang dari kejauhan. Tiba-tiba. Brrr…. sesosok tak dikenal keluar dari rimbunan ilalang….

“Aaaa!” suara Shena semakin tak jelas didengar.

“Kamu udah sadar, Shena? Maaf ya aku mengagetkanmu,” tanya Ruci penuh penyesalan.

“Loh, kok kamu di sini, Ci? Tau dari mana aku di sini?” sahutnya lemah.

“Kemarin aku ke rumah tantemu. Tapi katanya, kamu di sini. Karena Om David juga nggak bisa jemput kamu hari ini karena ada amanah mendadak, makanya Tante Maya nyuruh aku jemput kamu,” jelas Ruci panjang lebar.

“Kenapa mesti ada acara kejutan pakai benda itu segala, sih? Kalau aku mati karena serangan jantung gimana coba?” ujarnya kesal.

“Ya tinggal di kuburin aja,” canda Ruci yang membuat Shena tambah sewot.

Ruci jadi merasa bersalah. “Ya, maaf. Tapi, menurutku nggak baik lama-lama bergelimangan dengan fobia. Kamu harus berani melawan rasa takutmu itu. Sebenarnya ketakukan itu dari diri sendiri dan itu harus dihilangkan. Move on, Shena,” rayu Ruci.

“Gampang kalo ngomong doang. Aku udah usaha dan tetap saja aku takut.” Suara Shena berubah parau.

“Sebenarnya kamu bukan fobia panda, kan? Tapi takut akan masa lalu yang membayangimu sehingga selalu merasa bersalah. Sudahlah, itu sudah berlalu. Lupakan semua kepahitan itu,” bujuk Ruci padanya.

Shena mulai menitikkan airmata. Ia tak sanggup lagi berkata-kata, menutup erat kedua telinga, tak mau mendengar nasihat temannya itu.

“Memangnya dengan begini almarhumah Shera akan menjadi lebih tenang? Come on, Shena. Bukan begini caranya. Ini semua sudah takdir.” Nada bicara Ruci agak meninggi.

“Cukup, Ci. Aku nggak mau mendengar itu semua. Aku ingin pulang ke rumah Tante Maya sekarang,” jawab Shena geram.

Akhirnya Ruci mengalah. Ia pun membawa Shena pulang ke Surabaya setelah berpamitan pada keluarga Paman Sam. Di perjalanan pulang, mereka tidak menjalin komunikasi seperti biasa. Ruci memfokuskan diri menyetir mobil pinjaman dari ayahnya dan Shena membolak-balik memori masa lalu. Semasa kecil. Ia memutar kembali kenangan pahit itu.

Shena merasa, karena dirinyalah―Shera―saudara
kembarnya meninggal. Ia tidak menyangka kalau hal sepele seperti itu bisa membuat saudaranya pergi selama-lamanya.

Oleh: Mesri Winda

Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: