Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037 || Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037

TIKET SURGA (Bagian I Novel Jejak-Jejak Surga)

ReportaseRakyat.com– Suasana senja semakin merona. Sekumpulan burung tampak bersemangat pulang menuju sarang-sarang yang dibuat tuannya. Seolah menari dan bergembira di angkasa, mengabarkan cerita perjalanannya yang indah pada alam. Seperti tak lelah terbang seharian, walau hanya sekedar bebas sesaat.

Sorot mata pemuda itu pun teralihkan dari panorama langit. Azan yang berkumandang, otomatis menggerakan kakinya berjalan menuju rumah Allah, sebelum kembali ke rumah. Ia tak mau kehilangan kesempatan untuk salat berjamaah di awal waktu. Karena salat di awal waktu itu lebih utama baginya.

Setelahnya, ia beristirahat sejenak sebelum pulang. Pemuda itu membuka tas dan mengambil selembar kertas putih dari amplop di dalamnya. Senyum mengembang melihat tiket di tangan. Begitu berharga tiket yang akan mempertemukannya kembali dengan orang-orang yang ia cintai di Indonesia nanti.

Tiket yang ia pesan dari seorang teman cukup murah, tidak begitu berat bagi mahasiswa sepertinya. Walaupun harus menunggu untuk seminggu, tidak masalah. Yang terpenting hajatnya untuk pulang bisa terpenuhi.

Pemuda itu terdiam sejenak. “Sekedar tiket di dunia saja kadang begitu mahal. Bagaimana dengan tiket menuju akhirat? Surga pula. Pasti lebih mahal lagi. Bukan berbanding uang tentunya, melainkan mahal pada kategori iman dan amal. Apa yang sudah saya siapkan untuk mendapatkannya?” Buliran bening mengaliri sudut mata kala hatinya menggema.

Betapa pemuda itu menyadari segala kelemahan dan kekurangannya sebagai insan biasa. Mengharap rahmat Allah dengan terus berusaha memperbaiki amal dan niat dalam menuntut ilmu. Tanpa rahmat Allah, tentulah amalan-amalan manusia itu tak bisa membayar tiket ke surga. Apalagi berkaca pada amalanamalannya selama hidup. Salat berjamaah di masjid, puasa bulan ramadhan, zakat, dan infak,. Itu hanyalah amalan standar yang diwajibkan atas semua umat muslim. Kadang itu pun lalai bagi sebagian penganutnya.

Sang pemuda kembali beristighfar dan mengakhiri dengan doa. Berharap menjadi bagian dari orang-orang bertakwa yang Allah sebutkan di ayat-ayat cinta-Nya. Sehingga ia menjadi hamba yang layak Allah cintai.

Dia menyapu wajah dengan kedua telapak tangan dengan membawa harapan Allah mengabulkan doa-doanya. Lirih ia berkata, “Aamiin.”

Pemuda yang dikenal dengan nama Aziz, menyelesaikan Pendidikan Sarjana di perguruan tinggi negeri di kota asalnya dan berhasil mendapat beasiswa melanjutkan bidang yang ditekuni yaitu Ekonomi Syariah. Ia dikenal sebagai aktivis yang ramah dan memiliki banyak talenta. Dengan pergaulan luas namun tidak bebas, membuatnya disenangi banyak orang. Sehingga ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah Melayu itu, ia tidak kesulitan mendapatkan teman.

Sosok bertubuh jangkung itu pun keluar dari masjid dengan tas hitam yang bergelayut di punggungnya, hanyut dalam keindahan pesona sang malam. Kerlap-kerlip cahaya lampu ibukota, mengantarnya pergi menyusuri jalanan dalam rasa damai. Hal yang begitu ia syukuri ketika tak semua orang bisa mendapat kesempatan yang sama sepertinya. Tak ingin menyia-nyiakan apa yang Tuhan anugerahkan sebagai salah satu bentuk jihad agar Allah ridho padanya. Sehingga ilmu yang didapatkan akan bermanfaat kelak Jejak-jejak kaki terus tertapak menyusuri jalanan kota. Semakin jauh dan jauhhingga pada akhirnya bayang pemuda itu hilang di tengah keramaian.

 

oleh: Mesri Winda

Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: