Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037 || Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037

UPS, SALAH! (Bagian II Novel Jejak-Jejak Surga)

ReportaseRakyat.com– Suara bel membahana hingga ke luar rumah. Sang gadis menekan bel berulang kali di ujung pagar. Sesekali melirik isi rumah dari luar, sesekali membetulkan letak kacamatanya yang terkadang bergeser.

Bola matanya berbinar, terpancar rasa rindu mendalam. Ya, rindu pada sang sahabat. Dua tahun tak bertemu, menyisakan kenangan pelipur lara di hati gadis itu. Namanya Shena, gadis cerdas mahasiswa kedokteran yang akan menginjak tahun ketiga perkuliahannya di Universitas Bengkulu.

Tak lama pagar terbuka lebar secara otomatis. Shena menyusuri pekarangan yang luas itu dengan semringah. Tak sabar ingin bertemu langsung dengan sang pemilik rumah. Ia melirik bunga merah muda dan putih dari kejauhan. Bunga yang berhasil membuat gadis cantik itu tertarik mendekat.

Jemari Shena merengkuh setangkai, mendekatkan hidungnya pada mahkota bunga. Seketika lengkung bibirnya menerbitkan senyum. Wangi yang masih sama seperti dua tahun silam, aroma bunga kesukaan Shena dan sahabatnya semenjak sekolah dasar, Ruci Permata.

Bunga yang selalu mengingatkan kenangan indah di rumah itu. Tempat yang selalu membuatnya merasa gembira. Serasa menemukan keluarga yang telah hilang. Tentu Shena sangat merindukan masa-masa indah ketika mereka bersama beberapa tahun yang lalu di bumi Rafflesia, tempat kelahirannya.
Segera ia mendekatkan kaki menuju pintu.

“Assalamu’alaikum …,” ucapnya sambil mengetuk.

Shena dengan sabar menunggu di teras depan, menurunkan ransel yang memberatkan punggung ke atas dipan di sebelah pintu. Tak lama, gayung pun bersambut. Tampak wanita setengah baya keluar dengan wajah berseri, masih terlihat cantik walaupun sudah hampir berkepala empat.

“Wa’alaikumsalam. Shena? Ternyata yang dinanti-nanti telah datang rupanya. Apa kabar, Nak? Kesini naik apa?” Wanita paruh baya itu menyambutnya riang.

“Alhamdulillah. Shena sehat, Bun. Tadi di antar sama Om David. Bunda, apa kabar?”

“Baik, Nak. Kamu semakin cantik saja Shena.” Wanita paruh baya itu merangkul tangan Shena dan mengajaknya masuk. Gadis itu kembali memanggul ranselnya, mengikuti langkah si wanita menyusuri koridor ruangan.

“Ah, Bunda berlebihan. Rucinya ada, Bun?”

“Ada di kamar. Langsung naik aja, sayang. Bunda siapkan makan siang dulu, ya.”

“Bunda juga makin cantik dan awet muda lagi,” sahut Shena sebelum menaiki tangga yang terletak di pertemuan antar ruang.
Wanita yang dipanggil dengan sebutan bunda itu mengulum senyum mendengar pujian Shena.

Shena pun segera menuju ke lantai atas di mana kamar Ruci berada. Sesampai di depan pintu kamar, segera ia mendorong pintu dan…

“Taraaaaa…. Surprise!” Shena berteriak, namun ternyata bukan Ruci yang berada di sana. “Ups, salah!”

“Shena?!” kata pemuda penghuni kamar, terkejut melihat Shena yang salah tingkah di depan pintu.

“Lho, Kak Haikal?!” Shena beristighfar dalam hati karena turut kaget. “Maaf, Kak. Shena kira kamarnya Ruci.”

“Bukannya dua tahun lalu ini kamar Ruci, ya? Untungnya Kak Haikal lagi kerja di depan laptop. Ah, malu-maluin aja sih, Shena. Masuk nggak ketuk pintu dulu sih,” Shena merutuk dalam hati. Dia masih mematung di depan pintu dengan menahan wajah yang memanas. Pipinya pun bersemu merah menahan malu.

“Shena?!” ulang Haikal sambil melambaikan tangan di depan wajah sang gadis, membuatnya tersadar dan mengakhiri kekakuan dengan berusaha tersenyum kepada pemuda yang sudah berdiri di dekat pintu.

“Maaf, Kak. Shena kira ini masih kamar Ruci,” sahutnya berusaha menutupi rasa malu.

Haikal tersenyum menanggapi saat Shena mundur secara pelan. “Oke, nggak apa-apa. Kamar Ruci di sana, Shena,” tunjuknya mengarah ke kamar paling ujung di dekat balkon.

Shena langsung melangkah menuju kamar yang ia ingat sebagai tempat favoritnyaa dan Ruci bercerita, sambil melihat suasana lampu kota pada malam hari. Kalau sudah begitu, Haikal mau tak mau harus mengalah dan keluar dari kamarnya. Dan saat itu lah tangan jahil anak SMA muncul, mengobrak-abrik semua benda-benda Haikal. Sifat kakak Ruci yang terkenal perfeksionis dalam hal kerapian itu, membuat mereka dipaksa kembali merapikan kamar tersebut.

“Shena, kapan datang? Kok baru ke sininya sekarang. Bukannya liburan semester udah lama ya. Ada yang rindu berat tuh,” cengir Ruci menggoda Shena ketika gadis itu telah berada di kamar sang sahabat. Si pemilik kamar menutup buku novel yang dibaca dan meletakkannya di atas meja. Peluk yang diberikan sekilas menghapus jarak rindu.

“Siapa? Bunda? Kan baru juga dua hari ini aku nyampai di rumah Tante Maya,” jawab Shena polos setelah melepaskan diri. Kedua alisnya bertaut heran.

“Ya bukan Bunda-lah. Pura-pura nggak tahu nih, ya?” cecar Ruci terus menggoda. Deret giginya yang rapi begitu tampak saat tersenyum.

“Apaan, sih? Udah, deh. Mending temenin aku ke toko buku, yuk!” ajak Shena kemudian.

“Ya, Shena sayang. Pesenan Papa lagi, kah?” tanya Ruci serius. Logat khas Bengkulu belum sepenuhnya hilang dari tutur katanya.

“Begitulah. Kali ini Papa minta carikan buku antik lagi. Siap bertualang, kan?”

Ruci menggumam sesaat. Seakan berpikir sebelum menyahut, “Siapa takut! Usai zuhur kita langsung cabut.” “Ngomong-ngomong, kamu kenapa pindah kamar?” tanya Shena penasaran. Pandangannya kembali mengedar ke sekeliling. Ia penasaran dengan pajangan-pajangan di dinding, mendekati tanpa melewatkan satupun darinya.

Ruci menjawab dengan cengiran–seperti kuda.

“Emang Kak Haikal nggak keberatan?” Shena memperjelas pertanyaannya, meyakinkan.

“Ya, nggaklah. Dia setuju banget malah.” Ruci menjawab tanpa menghapus senyuman dari bibirnya, mengikuti gerak langkah Shena yang menyentuh beberapa pajangan. Sesekali mengambil, meneliti, lalu meletakkan kembali.

“Oh, gitu.” Shena menghela napas, lega.

“Kenapa, hayooo?” Ruci kembali menyerang Shena dengan pertanyaan yang membuat Shena gugup dan salah tingkah, hampir menjatuhkan salah satu piala yang baru disentuhnya.

“Nggak apa-apa kok. Biasa aja.” Shena berusaha santai menanggapi godaan sang sahabat dengan menyusun letak piala. Pandangannya kembali beralih pada sekeliling.

Kamar Ruci dihiasi berbagai piagam penghargaan. Banyak prestasi yang sudah diraih. Sahabat Shena itu, tak perlu diragukan lagi kecerdasannya. Selain cantik, juga sangat lincah kalau berbicara di publik. Sejak SMP, Ruci seringkali menjadi juara kelas. Ditambah lagi dengan karya tulis yang sudah banyak menembus media cetak. Sangat berbeda dengan kamar Shena yang hanya memajang satu foto keluarga saja.

Shena tak suka menulis. Bukan karena tak bisa, tapi ia lebih suka membaca saja. Padahal sahabatnya itu pernah berkata padanya ketika berdebat tentang kepenulisan. “Membaca itu berbanding lurus dengan menulis. Maka semakin banyak membaca, semakin banyak pula ide yang bisa kita tulis.”

Akan tetapi, tetap saja menulis itu sulit bagi Shena daripada berbicara, walaupun koleksi perpustakaan pribadinya selalu bertambah setiap bulan. Hobi dan keahlian boleh berbeda, tapi mereka sangat kompak. Shena sangat ingat petualangannya dengan Ruci dua tahun silam, sungguh mengasyikkan. Mengelilingi kota yang terkenal dengan simbol ikan hiu dan buaya, hanya untuk mendapatkan buku antiknya Chairil Anwar. Sampai-sampai harus pulang malam hanya untuk mencari pesanan sang papa.

Papa Shena memang penikmat puisi, mungkin rasa sastrawannya begitu tinggi karena berprofesi sebagai dosen Bahasa Indonesia. Hal itu pula yang menyebabkan papanya menjadi sangat sibuk. Apalagi akhir-akhir ini sang papa harus bolak-balik keluar kota untuk mengajar, karena cabang baru telah dibuka dan kinerjanya yang sangat dibutuhkan di sana.

Walaupun papanya sangat sibuk, Shena tak merasa diabaikan. Ia mencoba mengerti keadaan. Tak mau terus menuruti egonya. Ia bukan lagi anak kecil yang harus diperhatikan pertumbuhannya. Gadis itu merasa bersalah pernah membuat papanya dalam kesulitan. Dan itu sebelum ia mengetahui bagaimana pengorbanan sang papa untuknya.

“Shena, ayo turun dulu. Makan siangnya udah siap,” suara Bunda Ruci menggema hingga ke kamar.

Shena baru menyelesaikan salam di rakaat terakhir ketika Ruci mengajak, “Bunda udah manggil tuh. Buruan ke bawah yuk.” Shena pun segera melipat kembali mukena dan memasukannya ke dalam ransel. Sebelum turun, ia kembali memasang jilbab yang dilepas sebelum salat. Ruci mengajaknya menyambangi meja makan keluarga yang berada di lantai dasar. Telah tersedia ayam goreng tepung, tempe bacem, capcay, dan sambal terasi di atas meja. Dari aromanya saja, sudah sangat menggugah selera.

“Wah … Bunda masih ingat aja makanan ini,” komentar Shena tak percaya.

“Shena, Bunda itu paling ingat makanan favoritmu. Ketika kuberitahu kamu akan ke sini, Bunda langsung beli semua bahannya. Jadi, jika sewaktu-waktu kamu datang, bisa langsung dimasak, deh. Aku aja jadi iri …,” jelas Ruci.

Bunda hanya tersenyum mendengar celotehan Ruci. Wanita paruh baya itu selesai menyusun piring di atas meja.
“Wah, jadi nggak enak ngerepotin bunda terus.” Shena kembali berkomentar. Ia dipaksa duduk di salah satu kursi yang diarahkan sahabatnya.

“Ah, udah nggak usah didengerin si Ruci. Nggak ngerepotin sama sekali, kok. Kalian semua anak Bunda. Jadi, semua sama.” Shena tersentuh mendengar penjelasan sang Bunda.

Memang semenjak kepergian mamanya ketika di sekolah dasar, Shena sangat merindukan sosok seorang ibu. Sosok itu dia dapatkan dari Bunda Ruci. Beliau sudah seperti mamanya sendiri. Dia bersyukur bisa mendapatkan kasih sayang yang utuh dari keluarga Ruci, walaupun semenjak kepindahan keluarga sang sahabat Surabaya membuatnya merasa sangat kehilangan. Kontak mereka yang tak pernah putus dapat sedikit menghibur hati Shena yang gulana. Kehangatan keluarga Ruci lebih ia rasakan membawa kebahagiaan di hati.

Kala itu umurnya baru 13 tahun. Masih terlalu kecil untuk merasakan pahit kehilangan orang-orang yang disayangi. Sang papa memang sudah pernah menikah lagi dan memberikannya mama baru. Mama tiri bukanlah sosok yang jahat seperti di sinetron apalagi dalam dongeng, tapi Shena memang tidak bisa menerimanya dengan baik. Hingga papa dan mama tirinya itu memutuskan untuk bercerai, lelaki satu-satunya dalam hidup Shena itu tidak pernah lagi membicarakan tentang pendamping hidup.

“Lho kok jadi ngelamun, Shena? Ayo makan!” Ucapan Bunda mengembalikan Shena pada dunia nyata.

“Eh, iya. Jadi terharu aja, Bun. Sudah lama Shena nggak merasakan kehangatan bersama kalian lagi.” Shena meraih tempat nasi yang diberikan Bunda.

“Keburu dingin nih makanannya. Ayo makan!” potong Ruci—sang sahabat—yang sedang menikmati paduan ayam goreng bersama sambel terlebih dulu.

Mereka pun berpesta dengan hidangan di depan mata. Dengan menu sederhana, tapi sungguh menggugah selera.

“Memang masakan bunda tiada duanya. Top banget!” puji Shena diangguki oleh Ruci di antara kunyahan.

“Dihabisin, ya. Kalau perlu dengan piring-piringnya sekalian.” Ruci menimpali di sela tawa yang menyertai kebersamaan mereka.

Senyum Bunda semakin lebar melihat tingkah mereka yang tak berubah dari dulu, masih saja menggemaskan bagi wanita paruh baya berwajah lembut itu.

Terdengar langkah kaki menjejak dari tangga atas. Semakin lama semakin jelas menegaskan seseorang turun.

“Wah, pada makan enak kok nggak ngajak-ngajak sih!” Suara tebalnya yang khas mendekat.

“Ternyata benar Kak Haikal,” tebak Shena dalam hati.

“Makanya jangan asyik sendiri di kamar,” ledek Ruci pada Haikal yang tidak lain adalah sang kakak.

“Yah, gimana lagi. Risiko jadi orang ganteng,” balas pemuda bertubuh tegap itu dengan candaan saat mengambil posisi duduk di kursi yang kosong.

“Yee, apa hubungannya coba. Emangnya deadline dari penerbitnya kapan sih, Mas?”

“Diminta dalam minggu ini. Jadi harus benar-benar konsentrasi,” jawabnya serius.

Shena memang jarang bertemu, bahkan tidak pernah berbincang di telepon dengan Haikal. Pemuda itu selalu sibuk dengan kampus dan organisasinya, begitupun dengan dirinya. Dia hanya tahu sedikit tentang Haikal dari cerita-cerita Ruci di telepon. Tidak menyangka kalau selain jadi aktivis, ternyata Haikal juga penulis.

Sepertinya keluarga Bunda telah melahirkan penulispenulis berbakat yang penuh talenta dan tentu dengan karya yang baik. Bakat itu mungkin tak jauh diturunkan dari Ayah Ruci yang bekerja sebagai sekretaris pemerintah. Walaupun bukan penulis, tapi cukup mempresentasikan keahlian yang diturunkan pada kedua anaknya. Ternyata memang benar kata pepatah yang mengatakan, “Buah itu jatuh tak jauh dari pohonnya.”

Dan seperti liburan Shena sebelumnya, Haikal disibukkan dengan aktivitas di kampus. Jadi, memang tak heran, kecanggungan datang karena banyaknya perubahan pada pemuda itu. Begitu pun dengan Shena sendiri, sang pemuda juga merasakan banyaknya perubahan pada Shena. Baik secara fisik maupun sikap. Bukan bertambah cantik atau tidak, tapi lebih melihat cara berpakaian Shena yang semakin tertutup.

Haikal menyadari bahwa hubungannya dengan Shena selama ini memang seperti kakak adik. Namun sebagai aktivis kampus, ia tahu Shena yang bukanlah adik kandung juga bukanlah mahram untuknya. Mereka berdua menyadari batas-batas itu, karena sama-sama bermain di lingkungan aktivis yang menjaga adab dan juga menjunjung batasan pergaulan dalam Islam.

Shena masih berjuang menahan gugup karena rasa malu pada kejadian sebelumnya. Detak jantungnya seakan berkejaran membuat gadis itu tak mampu berkomentar apapun, larut dengan pikiran.
Haikal tampaknya menyadari sikap Shena yang malu tentang insiden salah kamar. Jelas pemuda itu hanya bisa menyimpan senyum dalam hati. Tak menunjukkan bahwa ia menyadari tingkah laku Shena yang sedang menahan diri.

“Shena, makan yang banyak.” Garis senyum dari Haikal terulas pada Shena.

Hati Shena terasa mau copot melihat kakak dari Ruci tersenyum, seakan meledek. Ia hanya bisa membalas dengan memaksakan senyum serupa, takut kalau-kalau kejadian sebelumnya diketahui yang lain. Bisa-bisa ia ditertawakan oleh Ruci dan menjadi bahan olokan di meja makan.

Shena mengembus napas perlahan seraya mengelus dada. “Untungnya dia tidak menceritakan apapun di meja makan.” Shena membatin.

Dari dulu pesona Haikal tak pernah berubah di hati Shena. Ia adalah kakak serta pahlawan baginya. Ketika Shena menangis saat berebut sepeda dengan Ruci, Haikal-lah yang membujuk dan memberikan sepedanya. Ketika Shena dan Ruci bertengkar, Haikal juga yang menengahi. Ia bisa menjadi kakak yang bijak bagi mereka berdua.

Masa lima tahun silam ketika Shena masih SMP, sedangkan Haikal kelas 2 SMA. Saat-saat terakhir kebersamaan mereka bertiga dikarenakan kepindahan keluarga Ruci ke kota Pahlawan.

Selain kehilangan Ruci dan Bunda, kehilangan Haikal juga membuat Shena menjadi sangat sedih. Tak ada lagi agenda antar jemput dengan motor antik Haikal. Tak ada lagi kakak yang menjaganya dari teman-teman jahil. Bahkan setelah kepindahan keluarga Ruci, Shena selalu merindukan sosok yang bisa menjadi kakaknya itu. Memang keluarga Ruci-lah yang selalu menjadi tempat curahan hatinya.

Mungkin karena Shena tak memiliki saudara, membuat semua beban harus ditanggung sendiri. Sehingga ia harus tumbuh menjadi anak yang keras kepala, nakal, dan suka membolos. Akan tetapi, ia disadarkan dengan suatu kebenaran. Tak lagi menyalahkan sang papa yang terus sibuk dengan pekerjaan dan bisa merasakan nikmatnya sebuah hidayah.

Ruci berdeham, melirik ke arah Shena dengan senyum penuh arti.

Shena membisu dan terus makan dalam diam tanpa membalas kerlingan Ruci. Sang sahabat pun menyerah melihat wajah gadis berjilbab itu tak nyaman, memilih diam. Mereka akhirnya menghabiskan hidangan di meja dengan penuh konsentrasi.
Bunda keluar dari dapur dan kembali beres-beres. Setelah membantu mencuci piring, Shena dan Ruci pun pamit untuk ke toko buku.
oleh: Mesri Winda

Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: