Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037 || Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037

Apakah Mafia Migas Penyebab Tingginya Impor Migas

Oleh: Inas N Zubir

reportaserakyat.com – Jakarta, Pada saat debat pilpres yang lalu, masyarakat bangga dengan pernyataan pak Jokowi bahwa mafia minyak Petral sudah dibubarkan sehingga berharap harga BBM akan turun, akan tetapi kemudian isu mafia migas ini mencuat kembali menjadi opini akibat riuhnya berita pengangkatan Ahok menjadi Komisaris Utama Pertamina.

Apakah benar mafia migas tersebut masih ada di Pertamina? Jika tidak ada maka tentunya akan melukai perasaan segenap direksi dan karyawan Pertamina yang sekarang ini sedang bekerja keras bebenah diri untuk menjadikan Pertamina sebagai World Class NOC.

Sebenarnya Pemerintah punya instrumen untuk mencermati tender minyak mentah dan BBM di ISC Pertamina, sehingga dapat melihat bahwa supply chain dalam tender ISC sekarang ini menjadi sangat singkat dan tidak sepanjang ketika tender minyak mentah dan BBM di handling oleh Petral.

Pada saat tender di Petral, supply chain-nya adalah TRADER/MOC-CALO1–CALO2-NOC- PETRAL-ISC PERTAMINA, dimana TRADER adalah trading house, MOC adalah Major Oil Company, CALO1 dan CALO2 trading company milik orang Indonesia berbadan hukum di Singapura, NOC adalah National Oil Company, Petral/PES anak/cucu Pertamina dan ISC adalah unit pengadaan crude dan BBM di Pertamina.

Panjang-nya supply chain tersebut terkonfirmasi juga berdasarkan laporan KordaMentha pada tahun 2015 yang lalu, dimana akibat panjangnya supply chain tersebut menjadi bukti adanya mark up pengadaan crude dan BBM yang nilainya antara USD. 1.- hingga USD. 2.- , yang kemudian menjadi alasan bagi pemerintah untuk membekukan Petral, sedangkan KordaMentha itu sendiri adalah konsultan keuangan dari Australia yang di-hire Pertamina untuk melakukan audit investigasi kepada Petral.

Setelah Petral dibekukan, Pertamina dengan serius berbenah diri sehingga supply chain sangat singkat yakni TRADER/MOC/NOC-ISC Pertamina, dan tidak ada lagi calo terlibat, bahkan NOC juga tidak lagi menjadi perantara melainkan peserta tender seperti TRADER DAN MOC, artinya bahwa mark up sudah bisa dieliminir dan akan sangat sulit melakukan mark up lagi, apalagi proses tendernya akuntabel.

Adanya bukti mark up di Petral, bukan saja mengenai panjangnya supply chain tapi juga formulanya, contohnya adalah RON88 alias bensin premium, ketika tender masih di Petral, formulanya adalah MOPS 92 – USD. 0.5, karena tidak ada publikasi MOPS dari RON88 maka digunakan publikasi RON 92 dengan diskon hanya USD. 0.5 saja, tapi setelah Petral dibekukan lalu tender dilakukan di ISC Pertamina maka formulanya menjadi MOPS 92 – USD. 2.5, berarti diskon atau potongan harganya justru jauh lebih banyak!

Lalu, kenapa import crude dan BBM terus meningkat? Sangat sederhana! Karena penjualan kendaraan dalam negeri terus digenjot, sehingga konsumsi BBM semakin meningkat, sedangkan produksi crude domestik tidak pernah bertambah, bahkan melorot sehingga hanya mampu berkontribusi setengahnya saja dari kebutuhan nasional yakni 1.5 juta bbls/day.

Alasan pemerintah bahwa mafia migas yang menjadi penyebab naiknya impor minyak, adalah alasan yang tidak tepat, karena seharusnya pemerintah kreatif untuk segera menghadirkan BBM alternatif bagi rakyat Indonesia.

Selain itu, jika pemerintah menginginkan agar defisit neraca perdagangan yang diakibatkan oleh import BBM yang sangat menyedot devisa, maka sebaiknya pemerintah melakukan penjajakan untuk swap atau barter minyak impor dengan batubara domestik, karena Pertamina sudah terbiasa melakukan swap antara minyak dengan produk minyak, tapi walaupun swap antara minyak dengan batubara belum pernah dilakukan, apa salahnya untuk dijajaki juga! (Foto: istimewa)

space-Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: