Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Awan cp. 0813-2432-1238 || Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Awan cp. 0813-2432-1238

“Bangsa Simulacra”

OPINI, RR – Konsep simulacra merupakan teori digagas oleh Jean Baudrillard salah satu filsuf asal Perancis. Baudrillard lahir di Reims, Perancis Timur Laut, pada tanggal 27 Juli 1929. Baudrillard dianggap sebagai seorang teroris, provokator, filsuf, sekaligus nabi postmodernitas. Tulisan-tulisan Baudrillard seperti bom yang meledakkan suasana, dan menyajikan cara pandang baru terhadap realitas sosial postmodern.

Lalau apa itu simulacra menurut Baudrillard? Ia berpendapat bahwa pada saat ini dunia sudah memasuki kehidupan post modern bukan lagi era modernitas. Hal tersebut di tandai dengan adanya kosep mengenai “masyarakat simulasi”. Proses simulasi tersebut mengarah pada simulacra. Simulacra dapat diartikan sebagai ruang dimana mekanisme simulasi berlangsung (Baudrilard, 1983).

Merujuk baudrilard, terdapat tiga tingkatan dalam proses simulacra, Pertama yaitu simulacra yang berlangsung semenjak era renaissance hingga awal revolusi industry. Simulacra pada tahap ini merupakan representasi (penggambaran) dari relasi alamiah berbagai unsur kehidupan.

Kedua, simulacra yang berlangsung seiring dengan perkembangan era industrialisasi. Pada tingkatan ini telah terjadi pergeseran mekanisme representasi akibat dampak negative dari industrilaisasi.

Tahap ketiga, simulacra yang lahir sebagai konsekuensi berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. Dalam hal simulasi, manusia mendiami suatu realitas , di mana perbedaan antara yang riil (nyata) dan fantasi, antara asli dan palsu sangatlah tipis. Dunia tersebut dapat diibaratkan seperti Disneyland, Universal Studio, Cina Town, Las Vegas atau Beverlly Hills.

Lewat media media informasi, seperti iklan, telivisi, dan film dunia simulasi tampil sempurna. Dunia simulasi itulah yang kemudian dapat dikatakan tidak lagi peduli dengan realitas atau kategori-kategori nyata, semu, benar, salah, referensi, representasi, fakta, citra, produksi atau reproduksi melebur menjadi satu dalam silang sengkarut tanda.

Di samping itu, tidak dapat lagi dikenal mana yang asli dan mana yang palsu. Semua itu pada akhirnya menjadi bagian realitas yang di jalani dan dihidupi masyarakat barat saat ini. Kesatuan inilah yang kemudian oleh Baudrilard disebut sebagai simulacra, yaitu sebuah dunia yang terbangun dari bercampurnya antara nilai, fakta, tanda, citra, dan kode. Kondisi tersebut pada akhirnya melahirkan sebuah Hyperreality.

Hiperrealitas yakni suatu kondisi yang di dalamnya kepalsuan berbaur dengan keaslian; masa lalu berbaur masa kini; fakta bersimpang siur dengan rekayasa; tanda melebur dengan realitas; dusta bersenyawa dengan kebenaran. Kategori-kategori kebenaran, kepalsuan, keaslian, isu, realitas seakan-akan tidak berlaku lagi di dalam dunia seperti itu.

Nampaknya, apa yang dikemukakan oleh Budrillard sangat mendekati kondisi bangsa kita saat ini. Mengapa? Karena banyak sekali kita saksikan pemutarbalikan fakta tentang kebenaran yang dilakukan oleh kelompok tertentu, khususnya kelompok yang berada didekat area lingkar kekuasaan.

Banyak kita saksikan pihak-pihak yang melempar batu lalu bersembunyi tangan. Ada juga pihak yang meneriakkan “Maling”, padahal ia sendirilah yang maling. Lalu pihak lain sibuk mencari “kambing hitam”, padahal “kambing hitam” itu bersembunyi dirumahnya sendiri. Bahkan ada juga pihak yang mengklaim sebagai “penafsir” kebenaran. Jadi ukuran-ukuran kebenaran hanya ia yang berhak menentukan. Yang berbeda darinya, harus siap-siap disalahkan. Sungguh memalukan!

Salah satu contoh konkrit praktek simulacra yang baru saja kita saksikan adalah adanya penyebutan istilah “Saya pancasila” dan “Saya Indonesia”. Istilah ini sengaja diviralkan seakan-akan ingin menyatakan bahwa sayalah yang Pancasila. Kamu dan mereka (khususnya pihak pengkritik pemerintah) bukan Pancasila. Istilah ini tentu bukanlah untuk menyatukan sesama anak bangsa, tapi bisa menjadi alat pemecah belah. Seharusnya lebih baik mengatakan bahwa “Kita Pancasila” sehingga masing-masing kita dapat merasakan aura kebersamaan.

Lalu apa ukuran mereka mengatakan ‘Saya Pancasila’? Apakah benar mereka Pancasila? Di dalam butir Pancasila sila ke 3 disebutkan “Persatuan Indonesia”, kalimat tersebut jelas menganjurkan agar kita bersatu padu dalam membangun Bangsa. Namun pada kenyataanya, upaya memilah-milah saya dan kamu itu bertentangan dengan sila ke 3 tersebut. Maka dapat kita ragukan bahwa mereka adalah Pancasila.

Selain itu, kita juga menyaksikan adanya penyebutan bagi pihak-pihak yang pengkritik pemerintah sebagai kelompok ‘Anti Kebhinnekaan’ serta ‘Anti Toleransi’ bahkan disebut ‘Kelompok Radikal’. Apakah benar demikian? Susah kita menalar penyataan itu. Tapi bagi orang waras, tentu dapat membedakan mana kelompok yang radikal mana kelompok yang santun. Tuduhan pemerintah atas kelompok-kelompok pengkritik itu sungguh mudah untuk dipatahkan. Kenapa kelompok itu melakukan kritik? Tentu ada kebijakan pemerintah yang salah dan harus diperbaiki? Kenapa mereka dikatakan radikal? Padahal sebanyak 7 juta massa mereka berdemonstrasi tapi Negara aman-aman saja. Justru Pemerintahlah yang radikal dan Anti toleransi. Apa buktinya?. Salah satunya adalah penangkapan para aktivis tanpa bukti yang kuat. Serta penetapan tersangka pada para ulama yang ikut aksi bela Islam. Jadi jelaslah mana yang benar mana yang salah.

Selanjutnya, dalam sila ke 1 Pancasila disebutkan ‘Ketuhanan yang Maha Esa’. Ini, mengajarkan kepada setiap warga Negara agar memegang prinsip-prinsip ke Tuhanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemahaman itu jelas dan tidak multi tafsir. Tapi kenyataan, Pemerintah malah ingin menjauhkan warga Negaranya terhadap agama. Salah satu buktinya, yakni pemerintah dengan sewenang-wenang membubarkan Ormas HTI secara sepihak tanpa proses pengadilan.

Mengapa ormas yang menjalankan perintah agamanya dibilang anti pancasila? Bukannya mereka telah ikut berbuat untuk memperbaiki bangsa ini? Telah banyak pemuda yang mereka selamatkan dari jerat narkoba, seks bebas, dan kriminalitas. Bukankah menyelamatkan masyarakat dari tindakan jahat tersebut berarti juga menyelamatkan negara? Dimana yang bertentangan dengan Pancasila? Sementara pihak-pihak yang jelas-jelas merusak persatuan, mengadu domba antar pemeluk agama disanjung dan mendapatkan tempat yang terhormat di negeri ini. Sugguh memilukan.

Kemudian, kita juga menyaksikan klaim pemerintah bahwa tindakan mereka menangkapi para aktivis, membubarkan HTI, menghutang ke China, adalah demi menyelamatkan negara, demi mempertahankan ideologi Pancasila serta demi mensejahterakan rakyat Indonesia. Silahkan dipikir apa klaim itu benar atau tidak. Nyatanya, kondisi negara kita semakin mengkhawatirkan. Dominasi asing semakin menguat. Utang kita semakin menumpuk. Kemiskinan semakin merajalela. Peredaran Narkoba tidak terkendali. Mengapa hal-hal itu seakan luput dari perhatian pemerintah? Bukankah hal itu harus diatasi jika ingin menyelamatkan bangsa dan negara ini. Jadi janganlah memutarbalikkan fakta.

Oleh karena itu, menurut hemat penulis, saat ini bangsa kita menuju bangsa yang simulacra. Dimana kita melihat, banyak kebohongan yang dianggap kebenaran, banyak keburukan dianggap kebaikan, serta banyak perusak dianggap pahlawan. Sungguh kondisi ini sangat membahayakan jika kita biarkan. Oleh karena itu marilah setiap elemen bangsa untuk bersatu padu membenahi kondisi yang buruk ini. Jangan lagi saling menyalahkan lagi, jangan saling curiga lagi dan jangan jadi penafsir dan pengklaim kebenaran. Serta saling rangkullah dalam kebersamaan. Jika tidak, maka bersiaplah hidup di bangsa simulacra!

Penulis : Sepri Yunarman, M.Si
(Dosen Fuad IAIN Bengkulu, Direktur Executive BSIC/Bengkulu Survey and Information Center)

adminadmin

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: