Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Awan cp. 0813-2432-1238 || Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Awan cp. 0813-2432-1238

Budaya Yang Ambigu

OPINI, RR – Budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni (https://id.wikipedia.org).

Kebudayaan menurut Koentjoroningrat adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar. Setiap masyarakat pasti memiliki budaya tersendiri. Budaya itu berfungsi sebagai alat bantu bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebudayaan dalam suatu masyarakat berkaitan erat dengan pola pikir dan pola kerjanya. Jadi budaya juga merupakan ciri khas yang dimiliki suatu masyarakat yang membedakannya dengan komunitas masyarakat lainnya.

Sementara itu, kata ‘ambigu’ dapat diartikan kalimat yang mempunyai 2 arti, atau dengan kata lain kalimat tersebut rancu, aneh, serta maknanya tergantung (http://id.answers.yahoo.com). Adapun Sinonim kata ambigu adalah problematis, taksa, enigmatis, samar, mendua. Lalu antonim kata ambigu yakni, jelas dan dapat dimengerti (http://fungsikata.com). Jadi, budaya ambigu yang penulis maksud adalah budaya yang rancu, budaya yang aneh serta budaya yang memiliki makna terbalik dengan budaya yang seharusnya.

Lalu kenapa penulis membuat judul “Budaya yang Ambigu’? Apakah ada masyarakat yang memiliki budaya yang ambigu? Tentu tulisan ini lahir dari kondisi riil budaya yang berkembang di masyarakat kita, khususnya masyarakat Indonesia. Bagi penulis, beberapa kebiasaan masyarakat kita yang telah membudaya itu sungguh sangat ambigu. Seharusnya budaya itu tidak boleh demikian, namun kenyataannya budaya itulah yang kita lakukan dan masih kita pertahankan.

Berikut ini penulis uraikan beberapa budaya atau kebiasaan dalam masyarakat kita yang penulis nilai sangat ambigu (rancu bin aneh). Pertama, masyarakat kita itu susah menerima nasehat! Sudah tahu sesuatu itu berbahaya dan dilarang keras, namun di Indonesia justru dilakukan beramai-ramai dan massif. Apakah itu? yakni kebiasaan “Merokok”. Secara kesehatan, tidak ada yang membantah bahwa kebiasaan merokok sangat berbahaya bagi kehidupan. Di bungkus rokok sudah ditulis peringatan keras akan bahaya rokok. Bahkan dibeberapa daerah telah memberlakukan Perda Larangan Merokok ditempat-tempat umum. Namun sangat aneh justru semakin hari masyarakat kita semakin banyak yang gemar merokok. Bahkan konon rokok termasuk penyumbang APBN tertinggi dinegara kita. Jadi untuk apa peringatan dan larangan itu jika tidak membuat jera. Aneh!

Selain itu, seharusnya perokok harus memiliki budaya segan dan menghormati yang tidak merokok. Namun justru yang penulis rasakan adalah sebaliknya. Cobalah naik angkot. Sering kita temui orang-orang merokok dalam angkot. Angkot adalah termasuk ruang publik yang harus memberikan kenyamanan untuk bersama, baik perokok ataupun yang tidak merokok. Tapi, malah orang tidak merokok yang segan dan malu untuk menegur sang perokok. Alasannya takut perokok tersinggung dan marah. Padahal justru yang tidak merokoklah yang mendapat bahaya yang lebih besar. Makanya dia wajib menegur dan mengingatkan sang perokok. Eh justru malah perokok yang bebas tak punya hormat. Aneh!

Kedua, budaya masyarakat kita salah menghargai waktu. Kenapa? Karena kita disuruh menghormati yang orang-orang yang tidak tepat waktu (terlambat). Jika tidak percaya, lihatlah ketika ada sebuah acara dimasyarakat kita. Walaupun acara tersebut telah disepakati mulai pukul 08.00 Wib, namun jarang peserta yang hadir tepat waktu. Dan parahnya lagi, walaupun sudah ada peserta yang hadir, acara tersebut juga belum bisa dimulai. Alasan kita masih menunggu yang terlambat. Enak betul, jadi orang terlambat. Sanksi tidak dapat, eh kedatangannya malah di tunggu-tunggu. Bahkan acara baru bisa dibuka jika yang terlambat sudah hadir. Mengapa kita tidak menghormati yang sudah hadir tepat waktu? Buktinya, kita biarkan orang-orang yang hadir tepat waktu terkatung-katung tidak jelas berapa lama harus menunggu. Aneh!

Ketiga, budaya masyarakat kita suka ngutang lalu menghilang. Perhatikanlah jika kamu pernah menghutangi orang lain. Jarang sekali ada masyarakat kita yang membayar hutang tepat waktu. Bahkan ada ungkapan ‘Ketika menghutang, yang memberi pinjaman dianggap sebagai malaikat. Ketika datang menagih, dianggap syaitan yang terlaknat.’ Jika bercermin dari pepatah itu, wajar jika ketika ada orang yang datang menghutang, maka pihak pemberi disebut dan selalu dipuji kebaikannya. Namun sebaliknya, ketika ia datang menagih maka keluar cacian-cacian yang menyakitkan. Bahkan si penghutang lari menghilang. Lalu dimana letak budaya/kebiasaan ambigunya? Yakni, para pemberi hutang justru segan kepada si penghutang. Ia menjadi malu dan tidak enak ketika harus menagih hutang. Justru ini kebiasaan yang salah. Seharusnya kita wajib dan berani menagih hutang. Karena secara konsep Islam, justru dengan dengan menagih hutang, maka kita telah menyelamatkan jiwa si penghutang. Karena hutang akan mengganggu perjalanan ahli kubur.

Keempat, budaya yang ambigu terjadi juga dalam bulam Romadhan. Dimana orang yang puasa diminta menghormati orang yang tidak puasa. Bahkan himbauan ini keluar dari seorang pejabat negara sekelas Menteri Agama di negeri mayoritas muslim. Aneh! Puasa itu perintah Al-Quran untuk ummat muslim. Jadi kalo ummat Islam sedang berpuasa harus dihormati dan dukung. Justru jika ada seorang muslim, tanpa alasan syar’i meninggalkan puasa ramadhan harus dididik dan diperingatkan secara keras. Jadi, dimana logikanya orang yang berpuasa diminta menghormati orang yang tidak berpuasa? Sudah tau orang lagi berpuasa, maka janganlah makan dan minum sebebasnya didepan orang berpuasa. Jika kita punya usaha rumah makan dilingkungan mayoritas orang berpuasa, maka agak tahanlah. Jika tidak bisa dihentikan jualannya, maka tutuplah warungnya dengan tirai. Itulah adab menghormati. Bagi ummat Islam tidak ada masalah untuk saling menghormati tentang dan dalam kebaikan. Janganlah dibalik!

Berikutnya dalam maslah pernikahan. Bagi orang awam, walau mempunyai banyak istri simpanan, itu dianggap hal yang biasa. Namun, jika ustadz memiliki 2 istri yang sah sering dicemooh. Ada apa ini. Dalam ajaran Islam, menikahi satu, dua hingga empat perempuan itu dibolehkan. Asal dapat memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan oleh syari’at. Jadi sah dan tidak perlu menjadi gunjingan. Justru yang memiliki wanita-wanita simpanan tanpa pernikahan itu patut dipermasalahkan. Budaya dan pola pikir seperti itu harus diluruskan.

Terakhir, pola masyarakat kita itu sudah sangat materialisme. Hal ini dibuktikan pada pandangan masyarakat tentang jabatan dan kekayaan. Jika ada pejabat yang menjadi kaya karena merampok uang rakyat itu dieluhkan dan mendapat penghormatan. Kemana-mana mendapat sambutan dan penghargaan. Baru sebulan sudah punya rumah milyaran. Tapi itu dianggap hebat jempolan, walau tidak tau duitnya dari mana. Namun bagi seorang pejabat yang tetap teguh memegang amanah lalu hidupnya sederhana pasti mendapat cibiran. Ah.. mengapa tidak punya mobil dan rumah mewah? Alangkah bodoh, tidak tau kesempatan? Untuk apa jabatan kalau hidup melarat? Pertanyaan-pertanyan itu sering dimunculkan oleh masyarakat. Jadi jangan heran jika ada pejabat melakukan korupsi karena tidak tahan dicibir dan dihina demikian. Oleh karena itu korupsi itu bukan hanya karena niat jahat pelaku, namun bisa berasal dari sikap dan tuntutan masyarakat itu sendiri.

Maka, kedepan budaya, pola pikir dan kebiasaan yang ambigu seperti ini harus kita rubah dan perbaiki. Karena budaya itu ibarat sistem demokrasi. Dari kita, oleh kita dan untuk kita. Jika budaya baik, tentu akan melahirkan orang baik. Orang baik akan menciptakan kehidupan yang lebih baik. Insyaallah!

Penulis : Sepri Yunarman, M.Si

adminadmin

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: