Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Awan cp. 0813-2432-1238 || Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Awan cp. 0813-2432-1238

Kebaikan dan Ketidakbaikan dari Kita, Buahnya Untuk Kita, (Kecek Kito-Kito Ajo, Ko)

OPINI, RR – Suatu ketika di lingkungan instansi tingkat Provinsi yang dikenal sebagai instansi basah. Dikatakan basah bukan berarti sering banjir. Istilah basah digunakan oleh orang-orang  karena disana sangat banyak kegiatan/proyek pemerintah yang berdampak dengan orang banyak. Sebagian besar proyek pemerintah ada di instansi tersebut. Di instansi ini, selain untuk karyawan, banyak pihak lain yang bergantung nasibnya, seperti  konsultan/fasilitator, masyarakat, oknum penggiat lembaga swadaya masyarakat, oknum wartawan, oknum aparat yang sering bermain maupun oknum dosen yang yang sering dijadikan sebagai tenaga ahli atau saksi tenaga ahli.

Bagi karyawan yang bekerja di instansi tersebut, seringkali, ketika ada seseorang yang bertanya, pak kerja dimana? Kalau jawaban nya adalah instansi yang disebut tadi, maka si penanya langsung membalas, wah,……padek….bagus….banyak duit awak ko….bulilah…bagi-bagi

Anggapan tersebut memang kadang sulit dibantah, mungkin penilaian orang diantaranya ketika berkunjung kekantor tersebut, parkiran mobil cukup banyak dan secara umum berduit. Selain itu instansi ini, terkadang menjadi harapan dari pihak-pihak tertentu untuk menjadikannya sebagai sebuah bahan. Bahan apa sajalah

Cerita 1 : Suatu ketika, ada seorang teman yang pada saat itu bersama salah seorang pegawai senior, bercerita, bahwa ia didatangi oleh seseorang yang bunyi percakapannya, kira-kira begini:

Seseorang : Boss, apo kabar? banyak proyek kito, bagi-bagilah.. Teman : Apolah sayo, sayo idak ado proyek, Seseorang : Minta  **it sekian dulu, Teman : Maaf nian, boss. Sayo sedang idak ado, sekarang ko sedang ngurus untuk memasukkan berkas, Seseorang : Kalau cak itu, sekian ajo, untuk ongkos jadilah, Teman : yo…sipp….. sorry nian yo, Cuma ado sekian, Karyawan Senior : Tahu nggak kamu, siapa yang minta tadi?, Teman : Tidak tau, pak…., Karyawan Senior : beliau ini dulu orang yang berduit….punyo jabatan ** di instansi ini, punya mobil sekian….punyo rumah sekian….isteri sekian, Teman : Ooooo….. ngapo cak itu pak?, Karyawan Senior : Sekarang, yang dia miliki dulu habis tidak berbekas, bahkan terakhir beliau sering berobat penyakit tertentu, Teman : Masya Allah, kasian juga pak, Ya…… semoga kito terhindar dari hal yang seperti itu

Cerita 2 : Kalau kita mencoba memperhatikan ketika sholat Jum’at di masjid-masjid, baik masjid  Raya atau Masjid Akbar, dimana biasanya jama’ahnya sangat beragam, mulai dari masyarakat biasa sampai dengan para pejabat dan mantan pejabat.

Di masjid tersebut, bisa dilihat secara kasat mata, bagaimana bentuk dan perlakukan jama’ah lain terhadap para mantan pejabat tersebut. Bahkan untuk pejabat yang dahulu mungkin dikenal sebagai pejabat yang tidak baik, bisa jadi jarang berada dimasjid bahkan mungkin tidak pernah lagi berjama’ah lagi dimasjid tersebut, padahal pada saat menjabat sering kesana. Kalaupun ia ke mesjid, tidak banyak lagi yang mau berkomunikasi dengan yang bersangkutan.

Sebaliknya, mantan –mantan penjabat yang baik, biasanya tetap konsisten sholat berjama’ah di masjid dimana dia dulu pernah aktif. Orang lain tetap menghormatinya, bahkan menjadinya ia sebagai rujukan untuk diminta kan nasehat atas permasalahan yang sedang dihadapi. Bahkan masyarakat dan pejabat sering mengenang kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan.

Cerita 3 : Di salah satu program pemerintah terdahulu, ada seorang teman  yang sering berkoordinasi dengan stake holder, termasuk para petinggi desa/wilayah yang bersangkutan.  Pada suatu ketika teman tersebut bertemu dengan mantan staf kades yang sudah pensiun, tetapi masa kerjanya termasuk baru (sebut saja namanya Chen Lung).  Kemudian beberapa waktu kemudian bertemu dengan mantan staf kades yang sudah senior (sebut saja Ali Baba), yang paham bagaimana tindak tanduk mantan kades tersebut.

Pada suatu waktu terdengar kabar bahwa sang mantan kades, disekolahkan  di universitas Bentiring (lapas). Pada saat sekolah tersebut, kondisi sang kades sudah purna/pensiun (tidak lagi jadi kades). Terdapat beberapa info bahwa kasus mantan kades tersebut adalah atas laporan penyimpangan dana desa sebesar 75 ribu rupiah. Di pengadilan tahap pertama, sang mantan kades  dihukum 3 bulan dengan membayar kerugian negara 30 ribu. Kemudian atas pertimbangan pihak lain, sang mantan mengajukan banding di pengadilan tinggi. Pada saat banding, sang mantan dijatuhi hukum bebas dari tuduhan. Atas putusan tersebut, tentunya pihak kejaksaaan Kasasi ke Mahkamah Agung. Setelah dalam waktu yang cukup lama, tepatnya ketika sang kades tidak lagi menjadi kades, turunlah keputusan tersebut, yang memutuskan bahwa sang mantan kades dihukum 1 tahun penjara dan denda sekian…. info terakhir yang didapat, untuk mengurus kasus tsb sang mantan kades sudah habis uang 1 juta rupiah lebih, melebih jumlah sangkaan korupsi. Sungguh itu adalah kondisi yang  tidak menguntungkan. Dimasa-masa pensiun, masa menikmati hari tua,  masuk Universitas Bentiring. Atas kejadian ini, banyak pro kontra dari masyarakat dan staf ketika sang kades ketika masih menjabat dahulu.

Teman  : saya ikut berbelangsung kawa atas musibah yang dihadapi mantan kades kita, Chen Lung : itulah kasian dak, padahal pak Mantan Kades, orangnya baik, tegas…… yo itulah resiko pejabat sekarang…………seharusnya mantan staf si_anu juga harus masuk ke Bentiring karena beliau juga termasuk yang membenarkan kegiatan itu  sudah benar pada saat PHO, Kesimpulan teman saya berdasarkan info dari Chen Lung: bahwa secara umum pak Mantan Kades orang yang baik.

Beberapa waktu kemudian, sang teman ketemu mantan warga/staf mantan kades yang lebih senior dari Chen Lung. Ketika berdiskusi, entah mengapa topik berubah ke nasib mantan kades yang ditahan di Universitas Bentiring.

Teman: Boss, awak la jenguk mantan Boss kito dak? kasian dak mantan kades kito ko. Sampai masuk Universitas Bentiring padahal orangnyo baik dak…..mengayomi… (mengambil bahasa dari Chen Lung) Ali Baba: Baik  apo….. wajar bae beliau tu masuk…. dulu pernah ngambik duit sekian pada saat proyek pembangunan di desa,…. kami anak buahnyo dapek hawo bae…… (nach…nach…). maso kami Cuma kerjo bae…idak dapek apo-apo….sayo do’akan nian, supayo mantan kades tu dapek balasan di kemudian hari.

Kesimpulan teman saya: bahwa wajar pak Mantan Kades masuk Universitas Bentiring karena dulu pernah dapek duit sekian, idak bebagi kek anak buah, jadi wajar beliau masuk Universitas Bentiring dan duit  yang pernah diambil, sudah habis untuk ngurus persidangan, jumlahnya  lebih besar dari jumlah uang yang pernah didapat dari proyek desa yang pernah dilakukan.

Kesimpulan penulis:

  1. Siapa yang menanam kebaikan, maka ia akan memanen kebaikan
  2. Siapa yang menanam ketidakbaikan, maka ia akan memanen ketidakbaikan
  3. Siapa yang pernah mengambil uang orang lain atau uang negara, maka ia akan kehilangan uang lebih dari jumlah yang pernah diambil bahkan dapat bonus penyakit.
  4. Uang korupsi penyebab timbulnya penyakit, dan keretakan dalam berkeluarga.
  5. Penilaian orang lain terhadap kita berbeda sesuai dengan kepentingan dan dampak langsung yang pernah dirasakan
  6. Do’a orang yang terzalimi akan diijabah oleh Sang Pencipta
  7. Tahta dan harta tidak abadi
  8. Seorang leader harus mampu mengayomi anak buahnya tanpa ada diskriminasi. Jika ada rezeki agar bisa berbagi dengan staf dan anak buah.
  9. Jadi seorang leader jangan sombong karena jika waktunya habis, akan kembali menjadi masyarakat biasa
  10. Siapa yang sering membantu orang lain, membantu negara, maka ia akan menikmati masa tuanya dengan aman dan nyaman, dianugerahkan kesehatan dan limpahan rezeki dalam bentuk luas, bahkan ketika sudah meninggal, namanya tetap harum, jadi buah bibir orang-orang karena kebaikkannya

Oleh karena itu, ayo kita berupaya untuk menyebarkan kebaikan-kebaikan dimanapun kita berada dan dalam peran apapun  posisi kita,  walaupun terkadang menurut kita itu sangat kecil dan sepele, dan mari kita berupaya untuk tidak melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. Semua kebaikan dan ketidakbaikan yang kita lakukan tersebut, pada dasarnya adalah sesuatu yang kita lakukan untuk kita. Wallahu a’lam

Penulis: Indra Utama, SE, MM (Dosen Universitas Dehasen, Wakil ketua III  BAZNAS Provinsi Bengkulu)

adminadmin

One Response to Kebaikan dan Ketidakbaikan dari Kita, Buahnya Untuk Kita, (Kecek Kito-Kito Ajo, Ko)

  1. Mien berkata:

    Coba contoh ceritanya jgn melulu ttng dana desa trs, dana2 masyarakat seperti kas masjid, pengumpulan dana zakat,infak dan shodaqoh dsindir jg..seru jg tuch…

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: