Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037 || Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037

Ketimpangan Pembangunan Manusia di Bengkulu

OPINI, RR – Pembangunan manusia selalu menjadi isu penting dalam perancangan dan strategi pembangunan berkelanjutan. Pembangunan manusia seharusnya menempatkan manusia sebagai tujuan akhir dari pembangunan, bukan hanya alat dari pembangunan. Oleh karena itu, membangun generasi yang memiliki sumber daya manusia (SDM) yang cerdas dan produktif untuk dapat membangun bangsa merupakan tantangan terbesar bagi Indonesia, terkhusus bagi Provinsi Bengkulu.

Konsep pembangunan manusia diukur dengan menggunakan pendekatan tiga dimensi dasar manusia, yaitu umur panjang dan sehat, pengetahuan, dan standar hidup yang layak. Dimensi umur panjang dan sehat diwakili oleh indikator harapan hidup saat lahir. Dimensi pengetahuan diwakili oleh indikator harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah. Sementara itu, dimensi standar hidup layak diwakili oleh pengeluaran per kapita. Ketiga dimensi ini terangkum dalam suatu indeks komposit yang disebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

IPM di provinsi Bengkulu sudah terkategori tinggi dengan capaian 70,64 pada tahun 2018 (Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Bengkulu, 6 Mei 2019). Meskipun demikian, masih terdapat ketimpangan dalam pembangunan SDM antara Kabupaten dan Kota di Provinsi Bengkulu. Dalam skala IPM 0 sampai 100, Kota Bengkulu mencatatkan IPM tertinggi dengan capaian 79,67 tahun 2018 yang terkategori tinggi. Namun, sembilan Kabupaten lainnya hanya berkisar dari 65,99 – 69,85 yang terkategori sedang, dengan IPM terendah yakni Kabupaten Seluma. Hal ini tentunya mengindikasikan terdapat ketimpangan yang cukup jauh antara Kota Bengkulu dengan sembilan Kabupaten lainnya.

Ketimpangan pembangunan manusia melalui angka IPM secara statistik dapat dilihat dari nilai standar deviasi IPM sepuluh Kabupaten/Kota. Nilai standar deviasi tahun 2017 adalah 3,88 kemudian membesar di tahun 2018 menjadi 3,92. Hal ini menunjukkan ada PR besar yang dihadapi dalam pembangunan manusia Di Provinsi Bengkulu. Jika dalam terminologi kemiskinan, dikenal dengan jargon “yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin” maka dalam pembangunan manusia, analoginya menjadi “yang maju semakin maju, yang tertinggal semakin tertinggal”.

Ketimpangan  tersebut sebenarnya juga dapat dikaji lebih mendalam melalui tiga dimensi pembentuk IPM, yakni kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Hal ini dapat dilihat melalui besarnya tingkat variasi dari ketiga indikator tersebut. Agar diperoleh tingkat variasi yang bisa dibandingkan antar indikator, maka digunakanlah ukuran koefisien variasi. Semakin besar nilai koefisien variasi, maka semakin beragam indikator tersebut. Tentunya ini berarti semakin timpang indikator tersebut. Dengan demikian, akan terlihat indikator dari dimensi mana saja yang memiliki peran terhadap ketimpangan IPM.

Hasilnya menunjukkan bahwa indikator pengeluaran per kapita ternyata merupakan penyumbang terbesar ketimpangan IPM Di Provinsi Bengkulu, dengan besaran koefisien variasi sebesar 15,51 persen. Koefisien variasi terbesar selanjutnya adalah Indikator rata-rata lama sekolah dan harapan sekolah dengan koefisien variasinya masing-masing 13,92 persen dan 7,39 persen. Sementara indikator dari dimensi kesehatan berupa umur harapan hidup hanya 2,68 persen. Hal ini berarti terdapat ketimpangan yang cukup besar dalam pembangunan manusia di Provinsi Bengkulu pada dimensi ekonomi dan pendidikan. Yang mana kedua aspek ini tentunya paling utama untuk segera “diobati”.

Pemerintah tentu sudah melakukan berbagai upaya dalam membangun pendidikan dan standar hidup layak masyarakat di Provinsi Bengkulu. Apresiasi dan dukungan tentunya juga perlu diberikan. Namun, pembangunan/penyelesaian masalah tersebut diharapkan tidak menyebabkan ketimpangan yang semakin melebar. Sehingga, penyelesaian masalah ditekankan/diharapkan lebih mengarah pada masalah ketimpangan pada dua dimensi tersebut. Data BPS cukup memberikan bukti. Rata-rata pengeluaran perkapita Di Kota Bengkulu adalah Rp 13.633.000 per tahun.

Sedangkan di sembilan Kabupaten lainnya hanya berkisar dari Rp 7.844.000 hingga Rp 11.071.000 pertahun. Sementara itu, rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas di Kota Bengkulu mencapai 11,58 tahun atau setara dengan kelas 2 SMA. Sedangkan Sembilan kabupaten lainnya berkisar pada 7,14 hingga 9,01 atau setara dengan kelas 1 SMP hingga 3 SMP. Hal ini tentunya cukup membuktikan telah terjadi ketimpangan dari segi ekonomi dan pendidikan penduduk di Provinsi Bengkulu.

Provinsi Bengkulu dengan segala potensi wisata dan kekayaan alamnya tentunya diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembangunan manusianya. Sehingga diharapkan semua potensi tersebut dapat digunakan seoptimal mungkin dalam meningkatkan derajat penduduk Provinsi Bengkulu.  Tentunya dapat diawali dengan meningkatkan standar hidup layak dan pendidikan. Semoga tujuan pembangunan manusia untuk berumur panjang dan sehat, berpendidikan serta hidup layak bagi penduduk Provinsi Bengkulu dapat terwujud, baik di wilayah kota maupun di kabupaten. Pada akhirnya, ketimpangan pembangunan manusia pun akan teratasi. 

Ibramsyah, SST, ASN pada BPS Kota Bengkulu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: