Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Awan cp. 0813-2432-1238 || Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Awan cp. 0813-2432-1238

Manajemen “Tahun Waw (و)”

OPINI, RR – Bagi generasi yang lahir dibawah tahun 90 an, kata “waw” sangat dikenal sekali. Ia adalah salah satu huruf yang dipelajari ketika seseorang mau belajar membaca Al Qur’an. Waw (و), adalah salah satu huruf dalam huruf hijaiyah. Posisi waw terletak nomor lima paling akhir sebelum huruf ya (ﻱ) Kalau dari sisi waktu berarti sudah termasuk lama atau sudah tua, atau sudah kuno.  Sesuatu yang sudah lama atau sudah kuno terkadang susah sekali beradaptasi dengan kondisi sekarang.  Sebuah makanan basah jika sudah lama akan tumbuh jamur. Orang menyebutnya jamuran…. tidak layak lagi dimakan.

Namun demikian, ada juga sesuatu yang sudah lama/kuno memiliki nilai jual yang sangat tinggi sekali. Tentunya ini adalah pengecualian terhadap topik yang akan kita diskusikan.

Kemudian, kata manajemen, kata  ini  sekarang sudah sangat umum sekali. Bukan hanya diucapkan oleh kalangan berpendidikan tetapi juga masyarakat umum dan  sangat familiar.

Berbicara masalah manajemen berarti kita membicarakan sesuatu berkaitan dengan proses sebuah kegiatan, sebuah program atau sebuah organisasi, baik skala besar maupun skala kecil.

Teori-teori tentang manajemen sendiri, sangat banyak sekali. Paling tidak secara sederhana, sebuah manajemen memiliki empat fungsi. Empat fungsi tersebut sering dikenal dengan istilah POAC (planning, organizing, actuating, controlling). Kalau kita coba istilahkan dalam bahasa sehari-hari adalah perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan sesuai dengan urutan-urutannya/prosedur/sop dan pengawasan.

Hampir mirip dengan diatas, manajemen memiliki lima fungsi, yaitu: POSCC (planning, organizing, staffing, coordinating, controlling). Jika  kita coba istilahkan dalam bahasa sehari-hari adalah perencanaan, pengorganisasian, penempatan, pengkoordinasian dan pengawasan. Penempatan dan pengkoordinasian hampir sama dengan pelaksanaan sesuai dengan urutan-urutan/prosedur/sop.

Istilah manajemen sering kali disebut secara singkat menej (manage) yang diartikan mengelola, mengatur, mengurus.

Imam Ali, ra,  pernah mengatakan, kebaikan yang tidak dimenej dengan baik, akan dapat dikalahkan dengan ketidakbaikan/kebatilan yang dimenej dengan baik.

Artinya, bentuk manajemen itu ada dua, manajemen baik dan manajemen tidak baik, manajemen bagus dan manajemen tidak bagus. Dua pengertian tersebut memiliki konsekwensi yang berbeda.  Selain bentuk yang dua tersebut, ada satu istilah satu lagi yang sebenarnya artinya hampir mirip. Yaitu manajemen “tahun waw” (manajemen tahun dulu sekali/manajemen lamo/kuno).

Manajemen “tahun waw” berarti sebuah proses pengelolaan program, kegiatan atau organisasi dengan menggunakan cara-cara lama atau kuno. Jika ini dilakukan dizaman sekarang, maka alamat akan tidak baik.  Seorang leader/pemimpin yang  memimpin sebuah organisasi dengan cara lama/kuno pada saat ini, yakinlah, para staf atau anak buahnya tidak akan mampu bertahan lama.

Terkadang cara-cara lama tersebut identik dengan sikap otoriter, tidak mau mengalah dan menerima masukan dari orang lain. Yang benar hanyalah dari pihak dia. Yang salah hanya dari pihak orang lain. Kalau ini kita kaitan dengan sorga, seolah-olah sorga itu hanya untuk dia, atau seolah-olah organisasi itu yang cocok mengelolanya hanya ia dan kelompoknya.  Masih mending jika waktu mengelola, memiliki prestasi. Biasanya minim perestasi bahkan nothing.

Oknum yang melakukan ini, biasanya terlena dengan nostalgia, kisah-kisah manis zaman dulu, padahal sekarang zamannya sudah berbeda, bro…

Person yang pola kepemimpinnya masuk dalam kategori manajemen “tahun waw” biasanya, tidak bisa beradaptasi dengan kemajuan, ada juga yang gaptek, mudah sekali tersinggung dan “mutung”. Cemburu/iri kepada yang muda. Tidak mampu berkomunikasi baik dengan pihak lain maupun pihak internal, hal ini karena munculnya sikap merasa paling benar. Sering kali jika ditinjau dri sisi akademis, ternyata kalah dengan yang lain. Para yuniornya sudah melanjutkan pendidikan S2, sementara ia belum atau tidak sama sekali.  Sehingga untuk menutupi kekalahan tersebut, sering melakukan sesuatu yang kontra, ingin menunjukkan ia lebih senior dari yang lain.

Jadi jika masih ada yang menggunakan manajemen “tahun waw”, berarti orang tersebut sebenarnya tidak layak lagi untuk menjadi seorang leader atau pemimpin bahkan mungkin tidak layak untuk ditampilkan karena sudah “jamuran”/rusak bagian-bagian tertentu…

Kegiatan apa saja yang proses pengerjaannya dilakukan dengan manajemen “taun waw”, maka alamat tidak maksimal hasilnya.

Sebagus apapun sebuah organisasi, jika leadernya memimpin dengan pola manajemen “tahun waw”, maka tunggu saja, kemunduran bahkan kehancuran atau kebangkrutan organisasi tersebut.

Bagaimana contoh dari manajemen “tahun waw” tersebut. Contohnya antara lain:

1. Selalu iri dengan keberhasilan teman se tim. Sehingga terkadang keberhasilan tersebut dinilai secara tidak benar. Kalau ini dilakukan, berarti orang yang iri tersebut merupakan orang yang tidak memiliki kemampuan, apalagi kompetensi, karena pengertian kompetensi sangat luas sekali. Seseorang dikatakan memiliki kompetensi jika ia memiliki SKA (skill, knowledge, attitude-keterampilan, pengetahuan, etika/akhlak).  Contoh mudahnya adalah dibidang akademik.

Ketika si A melanjutkan pendidikan ke jenjang S2, sementara si B tidak, maka apapun prestasi si A, akan tidak berarti dihadapan si B, bawaannya curiga, Ketika sang Junior memiliki keberhasilan dalam bidang tertentu dibanding sang Senior, Ketika seseorang terlalu lama di zona nyaman, kemudian harus menyerahkan zona nyaman tersebut karena pergantian rezim/leader. Maka apapun keberhasilan yang diraih oleh sang pengganti, akan selalu rendah bagi si pelaku manajemen ““tahun waw” ini. Kondisi seperti ini juga, ada yang menyebutnya, karena berkaitan dengan asap dapur. Ah, kalau sekedar asap dapur, mah….. bakar kayu aja, ntar ada asapnya.

2. Figuritaskan berlebihan terhadap pemimpin. Jika sang figur diganti, seolah-olah penggantinya merebut hak sang figur…….enak aje….emang situ yang buat….

3. Tidak berjalannya kaderisasi/alih kepemimpinan. Jika ada sebuah organisasi, ketuanya dari sejak zaman baheula sampai sekarang tidak berganti. Bahkan bisa jadi sang pemimpin tersebut sudah kakek atau nenek masih juga berkuasa, maka setiap pernyataan yang dikeluarkan sudah tidak benar lagi.

Atau ada juga seseorang yang menduduki posisi tertentu yang tidak ganti-ganti. Misalnya, sejak zaman berdiri lembaga tersebut sampai zaman dunia maya, posisi bendahara masih tetap dia. Enak an jika ada transparansi dalam pelaporan. Bahkan terkesan tertutup, otoriter dan mudah marah….. aduh, bro……… ini bisa gawat, jika suatu waktu posisi tersebut diganti, bisa struck atau bahkan “dua truck”.

Batasan jabatan dalam posisi tertentu, sebaiknya tidak lebih dari dua periode, bahkan cukup satu periode, jika satu periode tersebut lebih dari tiga tahun. Jika kita bertanya dengan “kapeka”, seseorang yang menduduki jabatan tertentu dalam waktu yang lama, mempunyai potensi untuk melakukan korupsi, nach…nach…..benar nggak nich…….

4. Mintai dihargai tetapi minim prestasi. Ketika diberikan sebuah pekerjaan, nggak sukses, bro…, malah cari “kambing hitam”, emang mau qurban, pelaku manajemen “tahun waw” seperti ini, komunikasinya payah, kalau diskusi sering mendikte, apalagi kalau merasa itu bidangnya dia, bueh……. padahal belum tentu juga benar dan pas, biasanya yang seperti ini, ia gagal di dalam lingkungan keluarga terdekat. Walaupun dari sisi materi mungkin memiliki segalanya, apalagi kalau materinya ya, masih kayak kite, pas-pasan, lebih parah lagi, tipe-tipe sepeti ini kalau diskusi sering dominan.

Penulis: Indra Utama, SE, MM (Dosen Universitas Dehasen)

adminadmin

One Response to Manajemen “Tahun Waw (و)”

  1. Mien berkata:

    Keberhasilan islam masa2 rasulullah,shabat,tabiin terjadi 15 abad yg lalu.ada manajemen gk,,,? 15 abad itu kategori baru apa sdh kategori waw?

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: