Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037 || Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037

Menakar Praktik Lailatul Ijtima Persfektif Teologi Berpikir Maka Aku ada, Berbuat (Beraktivitas) Maka Aku Bermanfaat

OPINI RR – Jamaah Tabligh menteologi praktik “khuruj” menjadi hakikat berislam, kaum Salafi menteologikan praktik tarbiyyah, liqo, bloger, YTBer” sebagai hakikat berislam. Nahdlatul Ulama? Islam Nusantara menjadi kebanggaan sebagai konsep yang mendunia, namun tidakkah kita lihat di luar pesantren NU yang justru lebih dikenal justru Islam Salafi, atau di masjid-masjid jauh dari pesantren lebih sering wujud jamaah khuruj.

Merambah ke dunia pendidikan, bukanlah di luar/jauh pesantren lebih diminati sekolah Islam terpadu dari madrasah-madrasah NU. Pengajian-pengajian bukankah lebih lebih berkembang pengajian kaum salafi juga? Pertanyaan selanjutnya bagaimana aswaja Nahdiyyah bisa menjadi sekolah-sekolah Islam yang paling dicari?

Bagimanakah majelis-majelis ta’lim aswaja Nahdiyyah menjadi majelis taklim transformatif “majelis taklim waralaba”, “majelis taklim koperasi”, Majelis taklim petani kopi”, “majelis taklim group youtuber”, “majelis taklim kelompok usaha kuliner”, “majelis taklim kelompok usaha pakian” yang berlabel aswaja nahdiyyah.

Aswaja yang hidup dalam berbagai bentuk kehidupan masa depan. Kesemuanya itu perlu dibangun. Mengangkat kata indah Aa Gym, “mulailah dari yang kecil”. Mungkin disinilah letaknya ulama menanamkan “Pohon lailatul ijtima” dalam NU, media konseptualisasi solving berbagai problem umat secara cepat.

Lalilatul ijtima merupakan wadah atau sarana berkumpulnya atau bertemunya pengurus NU di masing-masing tingkatannya dengan warga atau anggota jamiyyah Nahdlatul Ulama, dari NU tingkat ranting hingga Pengurus Besar (PB). Lailatul Ijtima sangat efektif untuk membahas berbagai persoalan kekinian umat. Pada umumnya kegiatan LI diisi dengan pengajian dengan acara seremonial ritual misalnya shalat ghaib, pembacaan manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani, tahlilan dan doa bersama.

Secara frasa lailatul ijtima ibarat lailatul qadar malam yang bermanfaat untuk kehidupan dunia akhirat, malam penuh barokah. Maka nuansa teologisnya bagi orang NU. Mendatangi lailatul ijtima ibarat meneguhkan hakikat kita beriman praktis, beriman yang memberikan manfaat bagi umat Islam dan mahkluk sekalian alam. sebaliknya siapa saja yang tidak menghadiri lailatul ijtima maka belum menjadi hakikat berislam yang benar apalagi sudah menjadi pengurus NU.

Menghidupkan lailatul ijtima ibarat menghidupkan masa depan umat. Pahalanya menyeluruh dari pahala pribadi hingga pahala jariah. Keislamammu tak sempurna tanpa lailatul ijtima, karena lailatul ijtima menghidupan sunnah dan ukhuwwah. Lailatul ijtima adalah nafas islam NU tanpa lailatul ijtima berhentilah kehidupan NU.

Lailatul Ijtima oleh KH. Munawir Abdul Fattah Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, didasarkan pada, pertama:
وَفِي رِوَايَةِ البُخَارِي وَمُسْلِمٍ وَالتُّرْمُذِي وَالنَّسَائِي قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اَلدُّعَاءُ مُسْتَجَابٌ عِنْدَ اجْتِمَاءِ الْمُسْلِمِيْنَ. وَفِيْ رِوَايَةٍ الدُّعَاءُ مُسْتَجَابٌ فِيْ مَجَالِسِ الذِّكْرِ وَعِنْدَ خَتْمِ الْقُرْآنِ. كَذَا فِيْ الْحِصْنِ الْحَصِيْنِ

Dari riwayat Bukhori, Muslim, Turmudzi, dan Nasa’i, Rasulullah SAW bersabda: Doa mustajab (dikabulkan) itu ketika berkumpulnya kaum muslimin. Di sebuah riwayat lain disebutkan: Doa mustajab itu ada di majels dzikir dan khataman Al-Qur-an. Demikian seperti dumuat dalam kitab Al-Hisnul Hasin. (Khozinatul Asror, hlm 140)
Dalil kedua:
وَالْحَقُّ أنَّ اْلمُؤْمِنَ إِذاَ اشْتَغَلَ فِيْ تِلْكَ الَّيْلَةِ الْخَاصَّتِ بِأّنْوَاءِ الْعِبَادَةِ مِنَ الصَّلَاتِ وَالتِّلَاوَةِ وَالذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ يَجُوْزُ وَلَا يُكْرَهُ
Orang-orang mukmin jika menyelenggarakan malam yang khas itu dan mengisinya dengan berbagai kegiatan seperti shalat, membaca Al-Qur’an, dzikir, dan doa, hukumnya boleh-boleh saja, tidak makruh. (Durratun Nasihin, Hlm 204)

Dalil ketiga,
اَلْعِبَادَةُ هُوَ فِعْلُ الْمُكَلَّفِ عَلَى خِلَافِ هَوَى نَفْسِهِ تَعْظِيْمًا لِرَبِّهِ
Ibadah adalah pekerjaan mukallaf melawan hawa nafsu demi mengagungkan asma Allah. (At-Ta’rifat lis Sayyid Ali bin Muhammad al-Jurjani, hlm. 128)

Selamat Harlah NU ke-93, semoga selalu terdepan dalam membimbing Ummat.

Oleh: M. Ridho Syabibi, Dosen IAIN Bengkulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: