Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037 || Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037

Muslim Negarawan Solusi Kepemimpinan Masa Depan

OPINI, RR – Nusantara merupakan kesatuan ruang identitas majemuk yang bersatu padu atas kesadaran kolektif bahwa kita harus merdeka dari cengkraman imprealisme, nusantara adalah gugusan pulau dan kerjaan kerjaan kecil yang kaya raya, laut dijadikannya sebagai penghubung bukan penghalang sarana interaksi masyarakatnya.

Perjuangan sekte kedaerahan dalam mengusir penjajahan ternyata tidaklah cukup, kita tahu betul betapa heroik para tokoh-tokoh pemuda melakukan pemberontakan dalam upaya mengusir penjajah. Sebut saja imam bonjol di Sumatera, Pangeran Diponegoro di Tanah Jawa, Singsingamangaraja dan lain sebagainya. Singa-singa dalam medan juang itu tidak akan mampu membuat gentar penjajah jika tidak melakukan perlawanan secara massif serta melupakan sebagian perjuangan yang lain.

(Ash shaff : 4) Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.

Pada puncaknya kesadaran atas perjuangan bersama itu dibuktikan pada momentum bersejarah, berkumpulnya dada-dada yang lapang, orang-orang berjiwa besar mengenyampingkan rasa primordialisme kedaerahan atau kepentingan pribadi serta kelmpok pada tanggal 28 oktober 1928 meneriakan suatu ikrar kesatuan bahasa, bangsa dan tanah air. Yakni Indonesia!

Dimulai dari fase inilah semai benih kemerdekaan atas persatuan itu dimulai. Memang tidak elok rasanya kita menoleh terlalu lama kebelakang hingga kita lupa jalan panjang yang akan kita tempuh, nusantara hari ini telah merdeka menjadi suatu entitas politik besar bernama Indonesia yang didalamnya bersemayam berjuta perbedaan yang dibungkus dalam suatu kata “Bhineka Tunggal Ika” suatu bentuk pengakuan perbedaan namun tidak meninggalkan suatu konsensus yang telah disepakati bersama.

Manusia bergerak dalam ruang dan waktu secara dialektis, begitu juga sebuah bangsa yang akan berjumpa dengan segala tantangan dan kemudian bagaimana menjawab dari segala tantangan itu. Membaca sejarah merupakan bagian menjawab tantangan, Bung Karno dalam pidatonya yang terakhir pada tanggal 17 Agustus 1966. Mengatakan Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah. Sebab sejarah adalah cerita tentang manusia didalam ruangnya dalam waktu yang panjang. Sejarah adalah cerita tentang tiga orang manusia, manusia yang telah mati, manusia yang sedang hidup dan manusia yang akan lahir demikianlah Annis Matta dalam bukunya.

Dibutuhkan suatu komponen besar untuk membaca sejarah dan menjawab tantangan bagi sebuah bangsa yang besar karena kerja-kerja yang besar dalam sejarah, dapat dituntaskan oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Naluri kepahlawanan itu tercermin dari suatu kepemimpinan yang ideal. Pada dasarnya manusia sebagai pemimpin merupakan given pemberian Tuhan.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (Khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
(QS. Al-Baqarah : 30).

Untuk menghadapi tantangan dan kemudian menjawabnya, pemimpin memberikan suatu arah tujuan bersama (sense of direction) bersama-sama menjemput sinar harapan yang samar dengan narasi-narasi besar.

Jhon maxwell dalam bukunya menyatakan bahwa pemimpin mesti memiliki jiwa pemberani, memiliki identitas pemikiran sebagai ruh kepemimpinannya. Karena pemimpin bukanlah bak ilalang yang gamang karena tertiup angin, hari ini ia kehulu, esok ia ketepi kiri, inkonsistensi dalam bersikap. Selain itu pemimpin mesti banyak mendengar, karena dengan mendengar itulah pintu gerbang untuk memahami suatu tantangan dan kemudian menyiapkan strategi untuk menjawabnya.

Dalam risalah Islam memanglah pemimpin ideal tergambar dalam sikap nabi Muhammad Saw. Namun bila kita menengok kesudut lain ada kisah yang akan menggores hati kita, betapa ketika Umar bin khatab dan rakyatnya melewati tantangan bangsanya yang sedang dilanda paceklik (tahun abu) Umar turun langsung menemui rakyatnya batapa ia temui seorang ibu memasak batu untuk menghibur anak-anaknya yang tengah kelaparan. Untuk melihat hal-hal seperti ini seoang pemimpin mesti sesekali melihat kebawah, insaf membangun tembok penyekat pada rakyatnya.

Risalah Islam telah banyak memberikan contoh bahwa perbedaan adalah sunatullah, kita hidup berbangsa-bangsa, bersuku-suku agar kita dapat saling mengenal. Perbedaan buakan sekat untuk memisahkan kita satu sama lain.

Untuk menghimpun elemen-elemen yang berbeda kemudian meng himpunnya menjadi suatu kekuatan besar yang membawa pada suatu positive effect hal ituah yang sepatutnya seorang pemimpin lakukan ditengah pluralitas bangsanya. Hal ini bukanlah suatu hal yang mustahil karena jelas dalam kepemimpinannya seorang manusia dituntut untuk berlaku adil.

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran…” (QS An-Nisaa’:135).

Serang pemimpin ideal tidak pernah membuat konsesi dalam menegakkan keadilan. Mereka menjadi teladan sepanjang masa dengan kata-kata, “Tuhanku menyuruh menjalankan (menegakkan) keadilan.” (QS Al-A’raf: 29)

Oleh: Hadi Pratama, Ketua Kebijakan Publik KAMMI Daerah Bengkulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: