Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037 || Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037

Pemuda dan Kebangsaan

OPINI, RR – Pemuda merupakan elemen yang ada di suatu bangsa. Ia memiliki andil yang besar dalam menggerakan lingkungan sosialnya, baik mikro hingga makro. Selain itu pun diharapkan oleh masyarakat dalam melakukan sebuah perubahan untuk menuju keadaan yang lebih baik. Tidak sedikit pemuda yang kala itu Indonesia masih dalam kerangkeng kolonialisme, berinisiasi untuk melakukan sebuah gerakan untuk mendobrak kerangkeng tersebut.

Sebut saja Samanhoedi yang berinisiasi mendirikan Sarekat (Dagang) Islam. Kala itu di Surakarta (1912) ia mendirikan SI dalam rangka memperkuat solidaritas muslim dan ditetapkan sebagai perkumpulan kaum muslim demi kemajuan. Awalnya organisasi ini hanyalah sebuah organisasi ronda yang bernama Rekso Roemekso yang dibungkus dalam bahasa modern. SI pernah memiliki rencana gerakan untuk mendirikan masjid, namun gagal. Tetapi, mereka berhasil membuat surat kabar Sarotomo dan Tirtoadhisoerjo sebagai Redaktur Utama.

Berbagai macam dinamika dihadapi, pernah diperintahkan oleh Residen Surakarta untuk menghentikan kegiatan SI, namun SI berkembang dan meluas ke seluruh Jawa dan Madura. Kemudian meluaskan gerakan propaganda melalui surat kabar Sarotomo, Oetoesan Hindia, Sinar Djawa, Kaoum Moeda dan Pantjaran Warta. Nama Oemar Said Tjokroaminoto, Tjipto Mangoenkoesoemo pun muncul. Para pemimpin cabang SI adalah kaum muda.

Semaoen muncul sebagai pemuda bumiputra pertama yang menjadi propagandis serikat buruh. Pada awal 1915, bertemu dengan Sneevliet di Surabaya, yang bebas dari mentalitas kolonial. Semaoen adalah pemimpin pergerakan yang baru yang memulai kariernya sebagai propagandis serikat buruh yang belajar marxisme sekaligus cara mengorganisir serikat dan memimpin pemogokan dari pembimbingnya, Sneevliet.

Kala itu merupakan awal dari gerakan melawan kolonialisme yang sangat dinamis. Diantara mereka memiliki pendapat dan cara gerak yang berbeda namun tidak menjadi hal penghambat untuk mencapai tujuan bersama yakni melawan kolonialisme. Hingga bermunculan tokoh seperti Tan Malaka yang memunculkan konsep merdeka secara seratus persen. Juga sosok Soekarno yang menjadi proklamator bangsa Indonesia terus bangkit melawan kolonialisme. Beliau menjadi sosok bagi rakyat dalam semangat melawan dan mendobrak kerangkeng kolonialisme. Hingga akhirnya terus terjadi dinamika dan gejolak di dalam bangsa Indonesia itu sendiri.

Pemuda, begitu pula mahasiswa ialah merupakan elemen penting di dalam masyarakat itu sendiri. Berkaca pada seratus tahun lalu yang memiliki semangat melawan. Bagaimana dengan saat ini yang katanya sudah merdeka? Tiada lagi penjajahan secara fisik. Sudah merdeka 73 tahun silam. Namun bagaimana kondisi bangsa ini? Permasalahan sosial yang semakin kompleks dan rumit. Terkhusus masalah pendidikan di negeri ini.

Negeri yang besar ialah tumbuh dan maju karena memerhatikan pendidikannya. Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam maupun manusia mesti lebih meningkatkan kualitas pendidikannya. Dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Masih banyak wilayah di Indonesia yang belum tersentuh pendidikan yang layak, baik dari segi substansi maupun akses pendidikan.

Komitmen dalam SDGs (Sustainable Development Goals) bidang pendidikan tampaknya hanyalah bualan belaka, targetnya ialah tersedianya pendidikan dasar dan menengah secara universal yang inklusif, setara dan berkualitas. Hingga tahun 2016 pun survei dari BPS (Badan Pusat Statistik) sekitar 73% kasus putus sekolah terjadi akibat faktor ekonomi.

Pendidikan sebagai hak asasi setiap individu anak bangsa seperti yang tertuang dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat (1) yang menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Namun di lapangan berbeda realitanya. Perlu adanya pembenahan pendidikan baik itu regulasi hingga pelaksanaan.

Permasalahan pendidikan tinggi pun semakin pelik. Diskriminasi terlihat jelas adanya. Seakan hanya orang kaya yang dapat mengenyam pendidikan tinggi. Adanya dalih sumbangan yang padahal itu sama saja dengan uang pangkal. SPU, SPI, SPMA atau apapun itu namanya perlu disikapi dengan kritis oleh mahasiswa. Hampir di seluruh PTN sudah menerapkan ini. Akankah masih ada batasan gerakan antar elemen mahasiswa? Masihkah diam menanggapi permasalahan pendidikan khususnya?

Mari tengok kembali perjuangan pemuda kala itu yang melawan penjajah. Kali ini kita dijajah (baca: terbungkam dengan aturan) dengan regulasi oleh para birokrat bahkan autokrat. Jangan diam. Ikhtiarlah untuk berjuang bersama. Semestinya ini sudah menjadi gerakan nasional. Bangsa ini perlu pemuda, mahasiswa yang memiliki semangat.

Jadilah pemuda untuk bangsa.

Oleh: Fajar Subhi
Referensi: 
Bisri, I. (2004). Sistem Hukum Indonesia. Jakarta: Rajawali Press
Tilaar H.A.R. (2006) Standar Pendidikan Nasional Suatu Tinjauan Kritis. Jakarta: Rineka Cipta
Malaka, Tan. (2016). Aksi Massa. Edited by Yogaswara. Jakarta: Narasi.
Shiraishi, T. (1997). Zaman Bergerak : Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. (H. Farid, Penerj.) Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: