Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037 || Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037

Guru, Maafkan Aku

PUISI, RR – Guru…
Aku buka kembali lembaran lembaran buku
Aku temui ada namamu di bukuku
Aku selami ada nasehat bijak di setiap lembaran pertemuan jam pelajaranmu
Terbawalah aku pada masa-masa dimana kata-kata bijakmu menjadi telaga yang menghilangkan dahagaku pada ilmu

Guru, maafkan aku…
Kini aku baru tersadar perjuanganmu itu guru
Aku tersadar bahwa aku nakal guru
Aku melalaikan tugasmu
Aku membantahmu
Aku mengabaikan nasehatmu
Bahkan
Aku menggibahmu dengan teman-temanku

Guru, maafkan aku…
Maafkan aku yang nakal padamu guru
Aku tak ada apa-apa tanpamu
Aku tak bisa membaca tanpamu
Aku tak bisa menulis tanpamu
Aku tak dapat berbicara di atas mimbar tanpamu
Aku tak beradab tanpa teladanmu

Guru, maafkan aku…
Kini aku berhasilpun tak singgah di rumahmu
Belasan tahun lalu kau berjuang pergi pagi pulang petang demi membagikan ilmumu padaku.

Guru, maafkan aku…
Kini aku melihatmu masih seperti yang dulu
Kau berusaha berangkat pagi pulang petang tanpa gaji yang cukup untuk kehidupan keluargamu

Guru, maafkan aku…
Terkadang dahulu kau harus menjual buku LKS untuk tambahan makan keluargamu

Guru, maafkan aku…
Aku anggap kau dulu berdagang di sekolah untuk mendapatkan keutungan dari muridmu
Padahal uang jajanku lebih besar dari gajimu perbulan
Tapi kau tak pernah mengeluhkan itu
Bahkan kau tak pernah sampaikan itu padaku
Maafkan aku guru
Aku salah menilaimu…

Guru, maafkan aku…
Kau berangkat pagi dengan menempuh jalan jarak berkilo-kilo tak menyurutkanmu untuk membagi ilmumu padaku
Bahkan terkadang hujan badai kau rela pergi demi muridmu

Guru, maafkan aku…
Disaat kau mendoakan muridmu yang nakal ini
Aku sedikitpun tak pernah mendoakanmu
Disaat suaramu lantang didepan papan tulis
Aku sibuk melukis
Disaat kau melempar penghapus papan tulis
Aku justru hanya mrengas mringis

Guru, maafkan aku…
Begitu egonya diriku tak mau mendengar nasehatmu
Betapa kerasnya diriku dulu ingin mengajak berkelahi denganmu
Betapa jahilnya diriku dulu mengempis ban motormu

Guru, maafkan aku…
Aku tak pantas mendapatkan ilmumu
Dibanding dengan kenakalanku
Aku tak pantas mendapatkan maafmu
Tapi aku juga tak mau jauh dari telaga ilmumu

Guru…
Walaupun negeri ini tak memperhatikanmu
Begitu sabarnya dirimu padaku
Terkadang kurikulum negeri ini bergonta ganti
Begitu hebatnya dirimu tetap mendidikku
Begitu dermawannya dirimu dengan ilmu
Begitu mulianya tugasmu
Begitu sucinya tugasmu

Guru…
Sekali lagi maafkan aku…

Oleh: Fatkur Romman, M.Pd.I (Kang Fatkur)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: