Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037 || Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Sony Taurus cp. 0852 7376 2037

Manfaat Sari Jeruk Kalamansi (SJK) Terhadap Kesehatan

PENELITIAN, RR – Berdasarkan data WHO (2010) menyatakan bahwa proporsi kematian pada usia kurang dari 70 tahun sebanyak 30% disebabkan oleh penyakit jantung koroner (PJK), kanker 27%, dan diabetes 4%. Lebih dari 50% wanita di Amerika mengalami kejadian overweight dan obesitas setiap tahun. Dan lebih dari 2,6 juta orang meninggal dunia akibat tingginya kolesterol.

Menurut WHO (2003) sepertiga dari setengah orang dewasa di dunia mengalami tinggi kolesterol dalam darah, dan Indonesia menempati posisi ketiga di Asia Tenggara dimana persentase perempuan 39% dan pria 35%. Menurut Depkes (2013) persentase kejadian kolesterol abnormal pada penduduk umur ≥15 tahun di Indonesia secara nasional adalah 35,9%. Pada laki-laki 30,0% sedangkan pada perempuan lebih tinggi yakni 39,6%, dan apabila abnormalitas lipid dalam jangka waktu lama akan mengakibatkan tingginya kolesterol dalam plasma darah.

Berbagai penelitian telah banyak dilakukan berkenaan dengan pencegahan ataupun pengurangan kejadian tinggi kolesterol. Namun, penelitian tentang pengaruh jeruk kalamansi terhadap kesehatan khususnya pada kolesterol belum peneliti temukan diberbagai jurnal nasional ataupun internasional. Penelitian secara in vivo pada hewan coba dan manusia telah banyak dilakukan mengenai manfaat konsumsi jus jeruk bagi kesehatan khususnya  profil lipid. Haryanto dan Sayogo (2013) hesperidin yang banyak dalam jeruk bersifat hipokolesterolemik. Bok et al. (1999) hesparidin dan naringin pada kulit jeruk dapat menghambat kerja enzim 3-hydroxy-3methylglutaryl-coA reduktase (HMG-coA reduktase) dan enzim acyl coA: cholesterol acyl transferase (ACAT). Hesperidin juga menstimulasi ekspresi dan transkripsi gen reseptor LDL. Penghambatan tersebut menyebabkan penurunan biosintesis kolesterol dihati.

Di Indonesia sendiri penelitian tentang manfaat jus jeruk telah umum dilakukan, tetapi penelitian tentang manfaat jus jeruk dari kalamansi belum ditemukan oleh peneliti. Memang belum ada bukti mengenai efek jeruk kalamansi terhadap perubahan kolesterol. Namun, karena di dalam jeruk tinggi kandungan antioksidan, vitamin C serta flavonoid maka diduga jeruk kalamansi dapat memberikan efek positif terhadap perubahan profil lipid pada perempuan dewasa kelebihan berat badan. Mengingat semakin tingginya prevalensi kejadian penyakit jantung yang berhubungan dengan meningkatnya TG, TC dan LDL dimana berkaitan dengan penyakit degeneratif, maka peneliti tertarik untuk meneliti mengenai pengaruh sari jeruk kalamansi terhadap profil lipid pada perempuan dewasa kelebihan berat badan.

Jeruk kalamansi (Citrus microcarpa) berasal dari negara China. Namun saat ini telah tumbuh dan menyebar dibeberapa negara khususnya Asia Selatan, Malaysia dan Philipina. Di Malaysia Jeruk kalamansi (Citrus microcarpa) ini lebih dikenal dengan nama kasturi lime atau limau kasturi. Di Philipina citrus microcarpa dikenal dengan nama kumquat, sedangkan di Indonesia masyarakat lebih mengenal dengan nama jeruk/limau kalamansi. Jeruk kalamansi memiliki batang kecil dan juga memiliki cabang yang banyak. Jeruk kalamansi yang belum matang berwarna hijau dan berwarna kekuningan jika sudah matang. Jeruk ini memiliki rasa asam, mengandung banyak air, dan juga memiliki aroma yang khas.

Kandungan gizi sebuah jeruk kalamansi yakni mengandung 12 kalori, serat 1,2 g, potassium 37 mg, vitamin C 7,3 g, vitamin A 57,4 mg IU, kalsium 8,4 mg, air 15,5 g. Dan mengandung karbohidrat 3%, mineral 1%, asam askorbat 0,1%, asam sitrat 3%. Kulit jeruk kalamansi kaya akan minyak osensial dan asam askorbat 0,15%, jeruk ini juga sangat berair dan memiliki rasa asam serta mengandung 5,5% asam sitrat (Morton et al. 1987).

Hasil penelitian Bhat et al. (2011) menyatakan bahwa jeruk kalamansi mengandung flavonoid 1,41±1,2 mg/100 ml, kapasitas antioksidan 777,0±1,7 mg/100 ml dan ascorbic acid 40,20±0,5 mg/100 ml. Vitamin C dan flavonoid dapat pula bekerja sebagai antioksidan yang dapat menetralkan speies oksigen reaktif yang dapat merusak sel tubuh dan bersifat kronis seperti kanker (Jacob et al. 2000).

Peran biologis asam askorbat adalah bertindak sebagai agen pereduksi yang mendonasikan elektron pada berbagai reaksi-reaksi enzimatik dan non-enzimatik. Nakajima et al. (2014) buah jeruk telah dikenal secaca luas sebagai sumber polifenol, selain itu komponen bioaktif lain yang terkandung adalah flavonoid, banyak studi penelitian terdahulu yang fokus kepada peranannya bagi kesehatan.

Kandungan vitamin C sensitif terhadap cahaya, air, dan panas (Effendi 2013). Vitamin C bersifat labil terhadap panas dan akan hilang pada saat makanan dimasak atau disimpan dalam keadaan hangat. Keadaan alkalis, seperti keberadaan pemakaian panci tembaga akan mempercepat kehilangan vitamin C. Jadi mengonsumsi buah yang segar lebih baik (Truswell dan Mann 2014).

Pacier dan Martirosyan (2015) peranan vitamin C secara fisiologis sangatlah penting, dikarenakan vitamin C bertindak sebagai kofaktor dan mengurangi enzim tertentu dengan menyediakan elektron. Enzim tersebut dapat bereaksi dengan biomolekul seperti lipid, protein dan DNA. Vitamin C juga dapat mencegah spesies oksigen peroksidasi lipid agar tidak terbentuk, ia bertindak sebagai inhibitor radikal dalam oksidasi protein, dan mencegah pembentukan nitrosamine untuk mengurangi kerusakan DNA.

Buah jeruk memiliki komponen bioaktif yang penting bagi kesehatan  yakni vitamin C, flavonoid, karotenoid, limonoid, dan mineral (Xu et al. 2008). Jeruk kalamansi mengandung 0,37 total flavonoid/100 ml jus jeruk kalamansi (Bhat et al. 2011).

Flavonoid utama dalam jeruk ialah naringin, narirutin, dan hesperidin (Jacob et al. 2000) yang terdapat pada kulit buah, biji (Tripoli et al. 2007), dan daging buah jeruk (Cano et al. 2008).

Ghafar et al. (2010) melakukan analisis komponen dari 4 varian jeruk di Malaysia yakni jeruk purut, limau nipis, limau manis, dan limau kesturi. Limau kesturi (citrus microrarpa) mengandungan total phenol (105±3,0 mg/100mL), total flavonoid (8,70±0,13 mg/100mL). Chun et al. (2007) sumber pangan tinggi flavonoid yang sering dikonsumsi di Amerika adalah jeruk (8 mg), anggur (4 mg) dan buah citas (3 mg) serta flavonoid juga memiliki potensi untuk melindungi tubuh dari resiko penyakit kronis. Arabbi et al. (2004) kandungan flavonoid tertinggi pada jeruk terdapat pada kulit 125-170 mg/g, pada daging jeruk 35-44 mg/100g.

Flavonoid merupakan bahan antioksidan yang mampu menetralisir oksigen reaktif dan berkontribusi terhadap pencegahan penyakit kronis seperti kanker, antiinflamasi dan berkemampuan untuk menurukan kolesterol (Fergusson 2010, Paulose 2005, Tripoli et al. 2007).

Miyake et al. (2009) flavonoid dalam buah jeruk dinyatakan memiliki kandungan antioksidan, anti-hypertension dan anti-hypercholesterolemia, hal ini telah dilakukan pada hewan uji coba yang diberi diet tinggi lemak dan tinggi kolesterol hasilnya menunjukkan terjadinya penurunan lipid. Polifenol yang terdapat pada buah dan sayuran secara epidemiologi berpotensi dalam penurunan resiko penyakit kardiovaskuler, meski mekanisme penjelasannya belum diketahui secara jelas. Namun efek flavonoid yang diamati pada fungsi endotel dan trombosit mungkin dapat menjelaskan efek postif dari flavonoid  (Vita 2005).

Jeruk merupakan salah satu buah yang banyak dikonsumsi di dunia setelah buah manggis, pisang, dan tomat. Buah jeruk tidak hanya kaya vitamin, mineral dan serat tapi juga phytochemicals seperti flavanones, flavones, flavonols, phenolic acid dan lainnya. Dimana kesemuanya itu bermanfaat untuk melindungi kesehatan dari berbagai penyakit misalnya antiatherogenic, anti-inflammatory and anti-tumor (Aruoma et al. 2012).

Kandungan polifenol berfungsi untuk mengurangi agregasi platelet dengan cara menghambat pada saat pembentukannya dan menghambat terjadinya oksidasi LDL di dinding pembuluh darah. Struktur kimia dari polifenol menyebabkan senyawa ini dapat bersifat hidrofilik atau lipofilik dan dapat berinteraksi dengan protein plasma serupa dengan permukaan polar fosfolipid bilayers pada lipoprotein dan membran sel, sehingga polifenol memiliki kemampuan melindungi sel dari radikal bebas dalam lindungan air dan lemak. Hal inilah yang menyebabkan polifenol dapat bekerja di dalam darah dengan mepengaruhi profil lipid (Rajaram 2003).

Kurowska et al. (2000) melakukan penelitian clinical trial pada subjek laki-laki dan wanita sehat dengan profil lipid dan vitamin C serum, sebagai parameter. Penelitian dilakukan dengan mengonsumsi jus jeruk sebanyak 250 ml, 500 ml dan 750 mL lama penelitian 4 minggu. Setelah perlakuan dilakukan pemeriksaan laboratorium dan didapatkan hasil, konsumsi 250 ml, 500 ml, 750 ml jus jeruk terjadi peningkatan vitamin C secara signifikan. Konsumsi 250 ml jus jeruk tidak signifikan meningkatkan kolesterol HDL, namun sebaliknya konsumsi 500 ml dan 750 ml signifikan menigkatkan kolesterol HDL.

Mulero et al. (2012) melakukan penelitian dengan design case control study pada subjek laki-laki dan wanita (20 subjek sehat sebagai kontrol dan 33 pasien dengan karakteristik sindrome metabolik. Penelitian dilakukan selama 6 bulan, glukosa dalam darah, Profil lipid sebagai parameter penelitian. Penelitian dilakukan dengan mengkonsumsi jus jeruk sebanyak 300 ml (90% jus jeruk dan 5% A. Melanocarpa exstract). Setelah perlakuan dilakukan pemeriksaan laboratorium dan didapatkan hasil, konsumsi 300 ml jus jeruk terjadi penurunan kadar kolesterol total dan kolesterol LDL secara signifikan.

Yamada et al. (2011) melakukan penelitian cohort study pada 12490 subjek (data April 1992-1995 di Jepang). Subjek konsumsi jeruk setiap hari, hasil penelitian menunjukkan korelasi positif terhadap rendahnya kejadian penyakit jantung di Jepang.

Dalam hasil penelitian Turner et al. (2013) bahwa sering mengonsumsi jeruk memberikan manfaat yang baik untuk kesehatan, karena jeruk mengandung flavonoid. Dari hasil penelitian bahwa asupan antioksidan tampaknya memiliki efek positif pada nilai-nilai c- reactive protein (CRP).

Penelitian yang dilakukan Tajoda et al.(2014) mengonsumsi jeruk lemon di konjugasikan dengan mengonsumsi buah apple signifikan menurunkan kadar total kolesterol, 52% subjek yang mengonsumsi jeruk lemon mengalami penurunan total kolesterol, sedangkan sampel yang mengonsumsi buah apple hanya sebesar 12%. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi buah jeruk lemon lebih efektif dalam menurunkan kadar kolesterol.

Aptekmann dan Cesar (2013) melakukan penelitian clinical trial pada karyawan pabrik jus jeruk. Sebanyak 108 laki-laki dan 26 perempuan usia 18-66 tahun. Subjek di intervensi dengan mengkonsumsi 480 ml jus jeruk sedangkan kontrol tidak mengonsumsi jus jeruk. Lama intervensi 3 bulan. Hasilnya menunjukkan kolesterol HDL signifikan meningkat, dan berkorelasi positif terhadap penurunan total kolesterol dan kolesterol LDL subjek

Sari Jeruk Kalamansi Efektif Memperbaiki Profil Lipid subjek yang Kelebihan Berat Badan

Penelitian terkait pengaruh sari jeruk kalamansi terhadap kesehatan ataupun secara khusus pada profil lipid sejauh yang peneliti ketahui belum ditemui. Berdasarkan hasil telaah berbagai pustaka yang telah dilakuan sebelumnya, bahwa penurunan kolesterol LDL,TC, TG dan peningkatan HDL signifikan setelah intervensi berbagai jus jeruk. Sejalan dengan itu dalam penelitian ini yang menggunakan Sari Jeruk Kalamansi (SJK) juga didapatkan hasil yang signifikan pada nilai selisih (∆) dan intervensi SJK 300 mL (100% SJK). Penurunan TC (∆) sebanyak -23,50 mg/dL atau 12,34%, TG (∆) sebanyak -23,67 mg/dL atau 23,64%, LDL-C (∆) sebanyak -30,58 mg/dL atau 26,90% dan peningkatan (∆) HDL-C sebesar 10,25 mg/dL mg/dL atau 26,29% pada wanita dewasa yang kelebihan berat badan. Namun tidak signifikan (P>0,05) pada perlakuan B (300 mL 50% SJK). Meskipun pada perlakuan B ada kecenderungan penurunan TG sebesar 6,84% dan peningkatan HDL-C 1,04%. Komponen aktif yang diduga berperan kuat dalam perbaikan profil lipid dalam penelitian ini adalah karena tingginya Vitamin C, flavonoid dan kandungan polifenol buah jeruk kalamansi. Hasil penelitian Bhat et et. (2011) 100 mL SJK mengandung vitamin C 40,20 mg. Wang et al. (2007;2008) pergram dari daging buah dan kulit jeruk kalamansi mengandung total flavonoid 8,41 dan 41,0 mg/g, total polifenol 52,3mg/g. Menurut Ghafar et al. (2010) Limau kesturi (Citrus microrarpa) mengandungan total phenol (105±3,0 mg/100mL), total flavonoid (8,70±0,13 mg/100mL).

Namun berbeda pada hasil penelitian Cesar et al. (2010). Penurunan signifikan hanya pada nilai ∆ LDL-C yakni -26 mg/dL (p<0,01) pada subjek dewasa yang hiperkolesterolemia. Sedangkan HDL-C, TG, tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kedua kelompok perlakuan. Hal tersebut dimungkinkan karena intervensi jus jeruk yang diberikan. Cesar et al. (2010) memberikan 750 mL (1:6 OJ/air) dengan kandungan hesperidin 42 mg, naringin 12 mg/107,14 mL OJ dan vitamin C 258 mg/750 mL OJ. Sama halnya dengan penelitian Demonty et al. (2010) bahwa flavonoid yakni hesperidin (80%/kapsul) dan naringin (93%/kapsul) tidak signifikan menurunkan TC, LDL dan tidak signifikan meningkatkan HDL-C pada pria dan wanita yang hiperkolesterol (moderat).

Hasil telaah pustaka pengaruh vitamin C dan flavonoid (hesperidin dan naringin) terhadap perbaikan profil lipid telah dilakukan. Menurut Ginter et al. (1977) bahwa mengonsumsi vitamin C dosis 0,5-1 g/hari dapat menurunkan kolesterol total pada subjek hiperlipidemia atau pada subjek yang rendah asupan vitamin C. Menurut Harats et al. (1998) secara in vivo vitamin C dapat menurunkan oksidasi lipoprotein pada partikel LDL pada karyawan laki-laki hiperlipidemia. Intervensi suplemen vitamin C 1000 mg menurunkan  TG pada subjek DM TP II (Ardekani dan Shojaoddiny 2007).

Sejalan dengan penelitian Mulero et al. (2012) bahwa intervensi 300 mL OJ dengan kandungan flavanone (11,45 g/100 mL OJ), hesperidin (13,54 g/100 mL OJ) dan flavanons (0,59 g/100 mL OJ) signifikan menurunkan LDL teroksidasi dibandingkan plasebo. Menurut Jing et al. (2013) kandungan flavonoid yakni d-limonene pada buah jeruk sebanyak 0,6 g/bb yang di intervensikan pada tikus obes efektif menurunkan serum TG, LDL-C, dan meningkatkan HDL-C. Sehingga menurut Jing et al. (2013) bahwa d-limonene pada buah jeruk sangat bermanfaat sebagi suplemen untuk mencegah ataupun untuk memperbaiki penyakit deslipidemia ataupun hiperglikemia pada manusia dan hewan. Gorinstein et al. (2007) memberikan intervensi hesperidin (0,10 mg/1mL) dan naringin (0,46 mg/1mL) yang bersumber dari jeruk grapefruit and shamouti (citrus sinensis) pada tikus yang diberi diet tinggi kolesterol. Setelah 30 hari intervensi hasilnya menunjukkan bahwa naringin dan hesperidin meningkatkan aktivitas antioksidan plasma dan signifikan menghambat peningkatan plasma lipid pada tikus yang diberi pakan tinggi kolesterol. Sehingga, hesperidin dan naringin pada buah jeruk memiliki potensi antioksidan dan potensi yang tinggi pula dalam penurunan plasma lipid pada tikus yang hiperkolesterolemia.

Penelitian ini merupakan bagian dari tesis Sutemy Surlitah dibawah bimbingan bapak Dr. Ir. Budi Setiawan, MS dan bapak Prof. Dr. Ir. Dodik Briawan, MCN di fakultas ekologi manusia program ilmu gizi Institut Pertanian Bogor.

PurwantoPurwanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: