Informasi pemasangan iklan/ banner/ running text hubungi Awan cp. 0813-2432-1238 || email. reportaserakyat62@gmail.com

Meski Keuangan “Berdarah-darah”, Pertamina Tak Akan PHK Karyawan

reportaserakyat.com – Jakarta, Tak bisa dipungkiri pandemi Covid-19 saat ini membawa pengaruh terhadap berbagai badan usaha. Salah satu badan usaha yang ikut terdampak adalah PT Pertamina. Produksi dan permintaan BBM juga ikut menurun.

Demikian disebutkan oleh Arie Gumelar, Presiden Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) saat mengadakan live streaming di kanal Youtube Saiful Muhijab bertema ” Apa Kabar Energi Bangsa di Tengah Pandemi?” pada hari Kamis (30/4/2020).

Arie menyebutkan, “Kondisi energi di dunia akibat dampak dari pandemi covid-19 sangat luar biasa. Banyak negara yang lakukan lockdown dan mengisolasi wilayahnya. Sehingga perekonomian mandek. Dampak yang paling signifikan ini di sektor energi dengan terjadinya over produksi bahan bakar minyak.”

Untuk ke hulunya, crude oil yang berlimpah mulai awal Januari sampai April permintaan menurun sehingga harga pun ikut merosot hingga US$ 20/barel, sambungnya.

“Kondisi itu tentunya menimbulkan gejolak di sektor industri migas dan sudah ada perusahaan migas yang kolaps. Akibatnya juga, AS, Rusia dan negara-negara OPEC sepakat menurunkan produksi,” katanya.

Untuk di Indonesia sendiri pandemi Covid 19 juga sama menurunkan permintaan BBM di masyarakat menurun sangat signifikan. Bandara-bandara di Indonesia juga banyak yang sudah tutup untuk melayani penerbangan domestik. Masyarakat pun dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar tidak diijinkan untuk melakukan perjalanan ke luar negeri ataupun ke lokasi-lokasi wisata.

“Untuk permintaan avtur saja misalnya terjadi penurunan signifikan hampir mencapai 50 persen. Untuk transportasi darat juga sama ada penurunan permintaan sampai 40 persen,” jelas Arie.

Akibat penurunan permintaan itu, stok migas nasional semakin banyak dan tangki-tangki juga penuh.

“Jadi kalau bicara soal ketahanan energi saat ini, Indonesia punya ketahanan suplai yang luar biasa banyak. Untuk BBM yang biasanya stok hanya untuk 21 hari, sekarang bisa sampai 41 hari. Bahkan untuk avtur stoknya sampai 110 hari. Namun demikian hal ini juga jadi beban biaya inventori,” beber Arie.

Dampak Covid 19 juga terkena untuk pemerintah karena penurunan harga Indonesia Crude Price. Sehingga pendapatan pemerintah untuk APBN di sektor migas juga menurun, imbuhnya.

Sementara untuk kondisi di Pertamina saat ini dengan adanya wabah Covid 19 juga ikut terdampak. Pertamina terkena triple shocking. Pertama, ketika ICP turun maka pendapatan Pertamina di hulu juga menurun. Selain itu Pertamina juga tidak boleh melakukan pengurangan pegawai atau PHK. Sehingga Pertamina harus melakukan efisiensi dari sisi lain.

Shocking kedua menurut Arie adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Pelemahan rupiah berdampak terhadap arus keuangan Pertamina. Sebab Pertamina saat belanja minyak menggunakan dolar tetapi saat penjualan menggunakan rupiah. “Jadi semakin melemah nilai rupiah, semakin tergerus keuangan Pertamina,” sebut Arie.

Untuk shocking ketiga kata Arie adalah penurunan permintaan BBM di hilir. Ini terjadi karena adanya penerapan PSBB di masyarakat.

Dengan kondisi seperti ini kata Arie, “Efisiensi yang dilakukan Pertamina mulai dari pengurangan biaya operasional sampai dengan biaya investasi. Pertamina harus mulai memilih dan memilah investasi mana saja yang tetap bisa dijalankan dan investasi mana yang harus ditunda.”

Selain itu Arie juga menyebutkan, “Arus keuangan Pertamina juga berdarah-darah, tapi Pertamina harus tetap eksis. Karena tidak mungkin pihak selain Pertamina bisa melayani sampai pelosok negeri.” (Dod)

adminadmin

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: